Sepucuk surat tiba di Batavia pada 29 Mei 1807, dikirim dari Kolombo, Sri Lanka.
Surat tiga puluh dua baris itu beraksara Arab gundul, berbahasa Melayu,
dengan kertas dan tinta Eropa, yang kelak tersimpan di rak,
Universiteitbibliotheek, perpustakaan Universitas Leiden. Surat ini
ditulis lebih lima bulan sebelumnya, 3 Januari, oleh Siti Hapipa, ibu
dua belas orang anak yang meminta VOC membayarkan utangnya yang semakin
menumpuk. Suaminya sudah meninggal tujuh tahun sebelumnya, 25 Januari
1795, pada sebuah siang di rumah Gubernur Johan Gerard van Angelbeek di
Kolombo. Suaminya meninggalkan banyak utang.
Siti Hapipa juga meminta agar, jika memungkinkan, ia dipulangkan oleh
kompeni ke Batavia, sebab pemerintahan kolonial Inggris yang berkuasa
di Kolombo saat itu setiap saat (sejak 1796) bisa menyita harta kemudian
memenjarakannya karena utang yang membengkak. Tunjangan yang hanya 50
riyal per bulan tidak mencukupi kebutuhan keluarga besar dengan dua
belas anak dan cucu-cucu, sehingga ia harus terus mengutang.
Siti Hapipa adalah isteri Sultan Fakhruddin Abdul Khair alias Amas
Madina, Batara Gowa—sultan Gowa ke-26 yang diasingkan VOC pada April
1767. Sebagai raja buangan ia tidak hanya mendapatkan tunjangan
keluarga, sebagaimana para bangsawan Nusantara lain yang dibuang ke Sri
Lanka. Selain itu, ia dan terutama putra-putranya terlibat dalam pusaran
politik dan perang kolonial di Ceylon. Lima atau enam orang putranya,
jika merujuk pada dua sumber, gugur dalam dua perang: Perang Polygar di
selatan India 1800 dan Perang Anglo-Kandyian di Sri Lanka 1803.
Empat sebagai kapten pasukan di pihak Inggris, seorang membelot
pemimpin pasukan di pihak kesultanan Kandy—sangat mungkin mereka semua
sudah mendaftar ke pasukan ‘Melayu’ yang dibentuk pemerintah kolonial
VOC pada tahun 1782. Akhirnya, fakta bahwa ia meninggal ketika tengah
berkunjung di rumah Gubernur VOC di Kolombo menunjukkan kedekatannya
dengan pemerintahan Belanda.
Surat ini menunjukkan dengan cukup kukuh bahwa sang Batara Gowa tidak
pernah pulang kampung.
(Sumber : Suryadi, dosen dan peneliti di Leiden Institute for Area Studies / School of Asian Studies, Leiden University, Belanda)
Surat Sitti Hapipa kepada Gubernur Jendral di Kolombo. Koleksi Universiteitsbibliotheek Leiden. Kodenya: Cod.Or.2241-I 25 [Klt 21/ no. 526].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar