Sepucuk surat tiba di Batavia pada 29 Mei 1807, dikirim dari Kolombo, Sri Lanka.
Surat tiga puluh dua baris itu beraksara Arab gundul, berbahasa Melayu,
dengan kertas dan tinta Eropa, yang kelak tersimpan di rak,
Universiteitbibliotheek, perpustakaan Universitas Leiden. Surat ini
ditulis lebih lima bulan sebelumnya, 3 Januari, oleh Siti Hapipa, ibu
dua belas orang anak yang meminta VOC membayarkan utangnya yang semakin
menumpuk. Suaminya sudah meninggal tujuh tahun sebelumnya, 25 Januari
1795, pada sebuah siang di rumah Gubernur Johan Gerard van Angelbeek di
Kolombo. Suaminya meninggalkan banyak utang.
Siti Hapipa juga meminta agar, jika memungkinkan, ia dipulangkan oleh
kompeni ke Batavia, sebab pemerintahan kolonial Inggris yang berkuasa
di Kolombo saat itu setiap saat (sejak 1796) bisa menyita harta kemudian
memenjarakannya karena utang yang membengkak. Tunjangan yang hanya 50
riyal per bulan tidak mencukupi kebutuhan keluarga besar dengan dua
belas anak dan cucu-cucu, sehingga ia harus terus mengutang.
Siti Hapipa adalah isteri Sultan Fakhruddin Abdul Khair alias Amas
Madina, Batara Gowa—sultan Gowa ke-26 yang diasingkan VOC pada April
1767. Sebagai raja buangan ia tidak hanya mendapatkan tunjangan
keluarga, sebagaimana para bangsawan Nusantara lain yang dibuang ke Sri
Lanka. Selain itu, ia dan terutama putra-putranya terlibat dalam pusaran
politik dan perang kolonial di Ceylon. Lima atau enam orang putranya,
jika merujuk pada dua sumber, gugur dalam dua perang: Perang Polygar di
selatan India 1800 dan Perang Anglo-Kandyian di Sri Lanka 1803.
Empat sebagai kapten pasukan di pihak Inggris, seorang membelot
pemimpin pasukan di pihak kesultanan Kandy—sangat mungkin mereka semua
sudah mendaftar ke pasukan ‘Melayu’ yang dibentuk pemerintah kolonial
VOC pada tahun 1782. Akhirnya, fakta bahwa ia meninggal ketika tengah
berkunjung di rumah Gubernur VOC di Kolombo menunjukkan kedekatannya
dengan pemerintahan Belanda.
Surat ini menunjukkan dengan cukup kukuh bahwa sang Batara Gowa tidak
pernah pulang kampung.
(Sumber : Suryadi, dosen dan peneliti di Leiden Institute for Area Studies / School of Asian Studies, Leiden University, Belanda)
Surat Sitti Hapipa kepada Gubernur Jendral di Kolombo. Koleksi Universiteitsbibliotheek Leiden. Kodenya: Cod.Or.2241-I 25 [Klt 21/ no. 526].
by Facebook Comment
Tampilkan postingan dengan label JEJAK MAKASSAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JEJAK MAKASSAR. Tampilkan semua postingan
Jumat, 27 Maret 2015
Selasa, 28 Oktober 2014
Penjelasan Ringkas tentang Pakaian Adat Makassar
Pakaian Adat Makassar adalah Implementasi dari perpaduan dari nilai SIRI sileo pangngali (Harga diri dan Kehormatan) yang melahirkan nilai Sipakatau (Saling Menghargai) dalam realitas empiris masyarakat etnis Makassar. banyak simbol-simbol makna yang melengkupinya dan pada umumnya diperkaya oleh assesoris aksesoris yang juga sarat akan makna.
Busana adat Makassar Khusus untuk pria :
1. Songko NIBIRING (Jas tutu,Barocci,Lipa Garrusu/Lipa Sab'be,Sele dan Sulepe/Tali Bannang).
2. Songko NIURA/Songko Kebo (Baju Balladada, Tope, Sele dan Sulepe).
3. PASSAPU (Patinra/Patonro dan Putara) Putara terdiri dari tiga ragam PADOMPE, BERENG BERENG, dan PAERANG dipakai oleh Pasolle, anrong Guru Pakarena. Orang yg memakai PASSAPU disebut PA PASSAPU perangkatnya Baju Kapa-Kapa, Lipa Sab'be, Barocci dan Sulepe.
Pakaian adat bagi Wanita Makassar :
1. BAJU BODO bahannya dari Sutra atau Katun, warna tradisi MERAH, KAMUMMU ungu, Hijau dan Hitam,Merah Jambu yang kemudian dalam perkem bangangnnya menjadi berbagai Warna.
Pelengkap yang menyertainya Lipa Sab'be, Simboleng PELE/PATINRA, Bangkara/Subang, Jima Jima,Pinang Goyang/Bunga Sibollo dan Sulepe.
2. BAJU LABBU dari bahan sutera atau satin. Bila Baju Bodo bagai tak berlengan maka Baju Labbu berlengan panjang warnanya sama saja dengan warna baju bodo, tapi dalam memakai Baju Labbu ini warnanya harus disesuaikan dengan warna baju penganten.
Perangkat Baju Labbu, Lipa Sab'be, Rappo Rappo, Simboleng Lappa Pandang, Bunga Niguba,Toge atau Giwang dan Palikang Nunga.
Busana ADAT MAKASSAR adalah suatu warisan leluhur yang tak ternilai dengan materi, sarat dengan sumber sumber makna misalnya pada SONGKO NIBIRING, kancing raga raga, rante bulo bulo pada passapu/pengikat Sele,Sikko Bida dan Poto Passapu. Sementara pada Busana perempuan assesorisnya Bossa, Lola Rapo Rapo, Mastura dan Bangkara kesemuanya bermuatan maknawi yang menyimbolkan ketinggian martabat pemakainya.
adapun penggunaan warna bagi kaum wanita juga disesuaikan dengan latar belakang status sosial pemakainya, yaitu : Warna Hijau untuk putri bangsawan, Merah darah untuk Gadis Remaja, Ungu untuk Janda, Merah tua untuk wanita yang telah menikah, warna Hitam untuk wanita lanjut usia dan warna putih untuk Pengasuh.
by Facebook Comment
3. PASSAPU (Patinra/Patonro dan Putara) Putara terdiri dari tiga ragam PADOMPE, BERENG BERENG, dan PAERANG dipakai oleh Pasolle, anrong Guru Pakarena. Orang yg memakai PASSAPU disebut PA PASSAPU perangkatnya Baju Kapa-Kapa, Lipa Sab'be, Barocci dan Sulepe.
Pakaian adat bagi Wanita Makassar :
1. BAJU BODO bahannya dari Sutra atau Katun, warna tradisi MERAH, KAMUMMU ungu, Hijau dan Hitam,Merah Jambu yang kemudian dalam perkem bangangnnya menjadi berbagai Warna.
Pelengkap yang menyertainya Lipa Sab'be, Simboleng PELE/PATINRA, Bangkara/Subang, Jima Jima,Pinang Goyang/Bunga Sibollo dan Sulepe.
2. BAJU LABBU dari bahan sutera atau satin. Bila Baju Bodo bagai tak berlengan maka Baju Labbu berlengan panjang warnanya sama saja dengan warna baju bodo, tapi dalam memakai Baju Labbu ini warnanya harus disesuaikan dengan warna baju penganten.
Perangkat Baju Labbu, Lipa Sab'be, Rappo Rappo, Simboleng Lappa Pandang, Bunga Niguba,Toge atau Giwang dan Palikang Nunga.
Busana ADAT MAKASSAR adalah suatu warisan leluhur yang tak ternilai dengan materi, sarat dengan sumber sumber makna misalnya pada SONGKO NIBIRING, kancing raga raga, rante bulo bulo pada passapu/pengikat Sele,Sikko Bida dan Poto Passapu. Sementara pada Busana perempuan assesorisnya Bossa, Lola Rapo Rapo, Mastura dan Bangkara kesemuanya bermuatan maknawi yang menyimbolkan ketinggian martabat pemakainya.
adapun penggunaan warna bagi kaum wanita juga disesuaikan dengan latar belakang status sosial pemakainya, yaitu : Warna Hijau untuk putri bangsawan, Merah darah untuk Gadis Remaja, Ungu untuk Janda, Merah tua untuk wanita yang telah menikah, warna Hitam untuk wanita lanjut usia dan warna putih untuk Pengasuh.
Label:
JEJAK MAKASSAR
Jumat, 08 Agustus 2014
Lontara Bilang Gowa-Tallo'
![]() |
| Salah satu Manuskrip Lontara' Makassar |
Majunya sebuah Peradaban pada suatu bangsa dapat dilihat dari beberapa aspek, salah satunya adalah dari Aspek Aksara. Etnis Suku Makassar telah membuktikan diri sebagai salah satu Suku Bangsa yang berperadaban tinggi dengan Aksara Lontara'nya yang turut mempengaruhi daerah sekitarnya seperti Etnis Bugis, mandar dan Toraya, Nusa Tenggara barat dan Nusa tenggara timur.
salah satu kebiasaan Bangsawan Makassar dan daerah-daerah sekitarnya adalah mereka senantiasa mencatat setiap peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupan sosial mereka, sehingga hal tersebut menjadi salah satu berkah tersendiri bagi generasi penerusnya untuk mengetahui sepak terjang leluhur mereka. Sangat jelas dari kebiasaan ini menunjukkan kepada kita semua bahwa Lompatan Berfikir Manusia Makassar telah sangat jauh melampaui masa dan Zamannya. Para Leluhur Orang Makassar sadar bahwa jalan satu-satunya untuk mencapai keabadian adalah dengan Menulis, seperti kata Pramudya bahwa Menulis adalah jalan menuju Keabadian.
Namun yang sangat memiriskan adalah bahwa kultur ini sangat Kontradiksi dengan realitas Empiris Masyarakat Makassar yang sangat sering di beri Label sebagai Manusia KASAR, BARBAR, PRIMITIF dan masih banyak lagi pelabelan-pelabelan yang sangat menyesatkan. padahal jika kita ingin mendalami lebih jauh Aspek Budaya dan Kearifan lokal Manusia Makassar sungguh merupakan sesuatu hal yang sangat mengagumkan. Jauh sebelum dunia barat mendengungkan Emansipasi Wanita dan Persamaan Gender, Wanita-wanita Makassar telah memiliki Peranan Sosial yang sangat Penting, hal ini bisa kita lihat pada sosok Raja Gowa Pertama "TUMANURUNGA RI TAMALATE" yang merupakan seorang wanita.
Berikut penulis sajikan beberapa Peristiwa yang tercatat dalam lontara' Bilang Gowa-Tallo'
Hera 1720
15 Janiari, 14 Rabele’ Awala’, allo Sanneng.
Namate I Daeng Memang ri Jongaya.
16 Janiari, 15 Rabele’ Awala’, allo Salasa.
Namate I Sitti arinna Daengku Karaeng Majannang, umuru’na 10.
21 Janiari, 10 Rabele’ Awala’, bangngi Aha’.
Surono Karaenga battu ri Lu’ angkana I Tu Sappewali
nialle Datu ri Lu’
22 Janiari, 11 Rabele’ Awala’, allo Sanneng.
Nanipasulu’ Puanna I Matta’ ri Tu Boneya nakaraeng
Ana’Moncong assambeyangi.
7 Pabereweri, 27 Rabele’ Awala’, bangngi Araba.
Namate Daenta Daeng Makkulle Cilallang.
11 Pabereweri, 2 Rabele’ Ahera’, allo Aha’.
Nanigesara’ balla’ Kaeriya.
19 Pebereweri, 9 Rabele’ Ahera’, allo Sanneng.
Nabattu nisuro erang ri tu Boneya ayaku Multifatula
siagang matoanna
20 Pabereweri, 12 Rabele’ Ahera’, allo Araba.
Nasipela’ Tumailalang Matowaia Karaeng Bontomasugi.
1 Marasa’, 22 Rabele’ Ahera’, bangngi Sattu.
Namammana’ ayaku I Daeng Tacoa I Patima bainenna
Putoku naine.
10 Marasa’, 30 Rabele’ Ahera’, allo Aha’.
Namate ana’na Karaeng Batupute.
13 Marasa’, 3 Jumadele’ Awala’, allo Araba.
Namate I Meta’ arinna Putoku Karaeng Alli’.
28 Marasa’, 18 Jumadele’ Awala’, allo Kammisi’.
Namate I Kare Pole anrongguru ana’ bura’ne.
11 Abarele’, 2 Jumadele’ Ahera’, allo Kammisi’.
Nanipajjalloki dallekanna Karaenga irawa ri Pasara’ tu
Wajoka na I Kare Lewa anruppai ambunoi, namaloko’ I
Kare Lewa.
22 Aberele’, 13 Jumadele’ Ahera’, allo Araba.
Nanisare pakkaraengang Putoku Karaeng Patte’ne’.
26 Abarele’, 17 Jumadele’ Ahera’, bangngi Juma’.
Namate I Pandi’ ana’na I Daeng Manjikanjili’.
3 Mai, 24 Jumadele’ Ahera’, bangngi Juma’
Namate I Kare Lewa I Sule, loko’na angerangi.
4 Mai, 25 Jumadele’ Ahera’, allo Sattu.
Nanitannang Angrongguru ana’ bura’ne I Kare Mangalle
I Malik, I Kare Pole Nasambeyang.
6 Mai, 27 Jumadele’ Ahera’, allo Sanneng.
Namate Karaenta ri Laikang balunna tunisombayya irate ri
Lakiyung.
11 Mai, 3 Rajja, allo Sattu.
Nanitannang Anrongguru kamanakang I Kare Mambani
I Umara’ manggena nasambeyang.
18 Mai, 10 Rajja’, allo Sattu.
Nama’lampa Karaenta Baluiya Mantama ri Cenrana.
23 Mai, 15 Rajja’ allo Kammisi’.
Naniari’ I Kunda’.
8 Juni, 2 Sa’bang, bangngi Sanneng.
Namana’ toaku I Daeng Tongi ri Putoku Karaeng Allu’
baine I Latifah.
17 Juni, 11 Sa’bang, bangngi Sanneng.
Nasikalabini I Daeng Mannangara’ toaku I Daeng Tamami.
29 Juni, 23 Sa’bang, allo Sattu.
Nanisunna tu menanga ri Jawaya.
16 Juli, 10 Rumallang, allo Salasa.
Nabattu ri Cenrana Karaenta Baluiya.
9 Agusutu’, 4 Sawwala’, bangngi Juma’.
Namate I Daeng Nisayu, Junggo.
15 Agusutu’, 10 Sawwala’, allo kammisi’.
Nanisunna’ ana’na Saiye Bukhari nikana Qiamuddin.
1 Satembere’, 27 Sawwala’, bangngi Aha’.
Nammana’ I Daeng Marannu I Sugi ri Daeng Manassa’
I Muhamma’ bura’ne ana’na I Jamaluddin.
27 Satembere’, 24 Dolokaeda, bangngi Juma’.
Nanianakkang I Manimbang Gau’ Muhyiddin.
6 Okotoboro’, 4 Dolohajji, allo Aha’.
Nanipare’ Palili’ Bori’ Sallo sipuwe.
10 Okotoboro’, 10 Dolohajji, allo Kammisi’.
Nanipanaung ri biseang Lontara’ naeranga Karaenta ri
Bontopanno kalau’ ri Jakattara’ attarimakasi’ nasareanta
Topejawa.
11 Okotoboro’, 9 Dolohajji, allo Juma’.
Namate I Daenta Daeng Tongji I Tallo’.
16 Okotoboro’, 14 Dolohajji, allo Araba.
Namammana’ Toaku I Thebah, bura’ne.
24 Okotoboro’, 22 Dolohajji, allo Kammisi’.
Namammana’ I Saena’ pallalowanna Karaenta Tama’la’lang
I Kappara’, baine ana’na.
Hijra’ Sanna’ 1133
15 Nowembere’, 14 Muharrang, allo Juma’.
Nania’ ilau’ ri Kampong Beru Puanna I Matta’ battu malari
assulu’ mae ri Balandaiya le’ba’na nipasulu’.
18 Nowembere’, 17 Muharrang, allo Sanneng.
Nasore Arung Pone battu ri Cenrana sikalabini.
10 Desembere’, 9 Sappara’, allo Salasa.
Namate I Daeng Nisanga I Qamariah bainenna Tu Bagusu’
Matoa
11 Desembere’, 10 Sappara’, allo Araba.
Nasipela’ I Daeng Manassa’ I Muhamma’ I Dang Marannu
I Sugi.
15 Desembere’, 14 Sappara’, allo Aha’.
Nanirappung nanipasulu’ Toaku I Daeng Ma’leo’.
17 Desembere’, 16 Sappara’, allo Salasa.
Namammana’ I Aci’ bainenna I Daeng Tulolo, bura’ne.
18 Desembere’, 17 Sappara’, allo Araba’.
Na I Daeng Masse’re I Pappi’ nipantama anjannangi ana’
Karaeng Salaya.
22 Desembere’, 21 Sappara’, allo Aha’.
Nania’mo battu ri Sandawo Toaku I Daeng Talarra’ battu
nicinde
Hera 1721
9 Janiari, 10 Rabele’ Awala’, allo Kammisi’.
Namate I Manrewakki ana’na I Pappi’.
13 Janiari, 14 Rabele’ Awala’, allo Sanneng.
Nanipa’bajikang Puanna I Matta’ Arung Pone ri Balandaiya.
18 Janiari, 19 Rabele’ Awala’, allo Sattu.
Nabunting Daengku Karaeng Majannang Daengku Karaeng
Tabaringang.
11 Pabereweri, 13 Rabele’ Ahera’, bangngi Salasa.
Namate Karaenta ri Balla’ Jawaya umuru’na 89.
15 Pabereweri, 21 Rabele’ Ahera’, bangngi Juma’.
Namammana’ I Daeng Rikong I Jaga, bura’ne.
21 Pabereweri, 23 Rabele’ Ahera’, bangngi Juma’.
Nasikalabini Karaeng Bontotangnga I Salira.
5 Marasa’, 5 jumadele’ Awala’, bangngi Araba.
Nama’labu Kappala’ nadongkokiya Karaenta ri Bontopanno
battu ri Jakattara’.
14 Marasa’, 14 Jumadele’ Awala’, bangngi Juma’.
Nasikalabini I Daeng Manassa’ i Muhammba’ I Saena’ ana’na
I Papu’.
17 Marasa’, 17 Jumadele’ Awala’, allo Sanneng.
Namate ana’na I Daeng Manassa’ Paci’ ri Salera.
26 Marasa’, 26 Jumadele’ Awala’, allo Araba.
Allo nakamateyanga Addatuang Massepe Matoaiya.
4 Abarele’, 6 Jumadele’ Ahera’, allo Juma’.
Namate I Ma’rumai bainenna Karaeng Mangesu’.
19 Mai, 27 Rajja’, allo Sanneng.
Namanta’le ri Sandawo I Daeng Manassa’ I Papu’ nisuro
ammpanaiki Taring.
20 Mai, 23 Jumadele’ Ahera’, allo Araba.
Namammana’ I Daeng Tamami bainenna I Daeng
Mannangara’ bura’ne.
7 Juli’ 11 Sa’bang, allo Salasa.
Nanitinting nanikesok Karaeng Patukangan, nani pasiparekangang
Tumamenanga ri Jawaiya.
22 Juli, 26 Sa’bang, allo Aha’
Nasikalabini Putoku Karaeng Panaikang ayaku I Daeng Ningai.
25 Juli, 29 Sa’bang, allo Araba.
Namate suroiya I Kare Takko.
3 Agusutu’, 7 Rumallang, allo Kammisi’.
Namate boeku I Kare Lu’mu’ Anrongna Daenta Daeng Singara’.
29 Agusutu’, 26 Dolohajji, allo Juma’.
Nanikana nia’ jarang ammana’ tedong irate ri Sengka.
Nakamateanga Datuiya ri Citta.
11 Satembere’, 19 Dolohajji, bangngi Kammisi’.
Nabattu ri Sandawo Daeng Manassa’.
9 Okotoboro’, 17 Dolohajji, bangngi Kammisi’.
Namammana’ I Nannu’ bainenna Daeng Makkulle I Mappa’
nipappala’ popporang ri Karaenga.
Hijra’ Sanna’ 1134
24 Okotoro’, 3 Muharang, allo Juma’.
Nabattu ri Sambawa Karaeng Bontomate’ne.
28 Okotoboro’, 7 Muharrang, allo Salasa.
Namate I Halima’, umuru’na 2 taung assibulang allimang bangngi.
3 Nowembere’, 11 Muharrang, allo Sattu.
Namate I Bangung ana’na Putoku Karaeng Patte’ne.
27 Nowembere’, 7 Sappara’, allo Kammisi’.
Namate ana’na Karaeng Bontomate’ne.
28 Nowembere’, 8 Sappara’, allo Juma’.
Naniana’kang I Punca Pattola Sitti Hawa.
by Facebook Comment
15 Janiari, 14 Rabele’ Awala’, allo Sanneng.
Namate I Daeng Memang ri Jongaya.
16 Janiari, 15 Rabele’ Awala’, allo Salasa.
Namate I Sitti arinna Daengku Karaeng Majannang, umuru’na 10.
21 Janiari, 10 Rabele’ Awala’, bangngi Aha’.
Surono Karaenga battu ri Lu’ angkana I Tu Sappewali
nialle Datu ri Lu’
22 Janiari, 11 Rabele’ Awala’, allo Sanneng.
Nanipasulu’ Puanna I Matta’ ri Tu Boneya nakaraeng
Ana’Moncong assambeyangi.
7 Pabereweri, 27 Rabele’ Awala’, bangngi Araba.
Namate Daenta Daeng Makkulle Cilallang.
11 Pabereweri, 2 Rabele’ Ahera’, allo Aha’.
Nanigesara’ balla’ Kaeriya.
19 Pebereweri, 9 Rabele’ Ahera’, allo Sanneng.
Nabattu nisuro erang ri tu Boneya ayaku Multifatula
siagang matoanna
20 Pabereweri, 12 Rabele’ Ahera’, allo Araba.
Nasipela’ Tumailalang Matowaia Karaeng Bontomasugi.
1 Marasa’, 22 Rabele’ Ahera’, bangngi Sattu.
Namammana’ ayaku I Daeng Tacoa I Patima bainenna
Putoku naine.
10 Marasa’, 30 Rabele’ Ahera’, allo Aha’.
Namate ana’na Karaeng Batupute.
13 Marasa’, 3 Jumadele’ Awala’, allo Araba.
Namate I Meta’ arinna Putoku Karaeng Alli’.
28 Marasa’, 18 Jumadele’ Awala’, allo Kammisi’.
Namate I Kare Pole anrongguru ana’ bura’ne.
11 Abarele’, 2 Jumadele’ Ahera’, allo Kammisi’.
Nanipajjalloki dallekanna Karaenga irawa ri Pasara’ tu
Wajoka na I Kare Lewa anruppai ambunoi, namaloko’ I
Kare Lewa.
22 Aberele’, 13 Jumadele’ Ahera’, allo Araba.
Nanisare pakkaraengang Putoku Karaeng Patte’ne’.
26 Abarele’, 17 Jumadele’ Ahera’, bangngi Juma’.
Namate I Pandi’ ana’na I Daeng Manjikanjili’.
3 Mai, 24 Jumadele’ Ahera’, bangngi Juma’
Namate I Kare Lewa I Sule, loko’na angerangi.
4 Mai, 25 Jumadele’ Ahera’, allo Sattu.
Nanitannang Angrongguru ana’ bura’ne I Kare Mangalle
I Malik, I Kare Pole Nasambeyang.
6 Mai, 27 Jumadele’ Ahera’, allo Sanneng.
Namate Karaenta ri Laikang balunna tunisombayya irate ri
Lakiyung.
11 Mai, 3 Rajja, allo Sattu.
Nanitannang Anrongguru kamanakang I Kare Mambani
I Umara’ manggena nasambeyang.
18 Mai, 10 Rajja’, allo Sattu.
Nama’lampa Karaenta Baluiya Mantama ri Cenrana.
23 Mai, 15 Rajja’ allo Kammisi’.
Naniari’ I Kunda’.
8 Juni, 2 Sa’bang, bangngi Sanneng.
Namana’ toaku I Daeng Tongi ri Putoku Karaeng Allu’
baine I Latifah.
17 Juni, 11 Sa’bang, bangngi Sanneng.
Nasikalabini I Daeng Mannangara’ toaku I Daeng Tamami.
29 Juni, 23 Sa’bang, allo Sattu.
Nanisunna tu menanga ri Jawaya.
16 Juli, 10 Rumallang, allo Salasa.
Nabattu ri Cenrana Karaenta Baluiya.
9 Agusutu’, 4 Sawwala’, bangngi Juma’.
Namate I Daeng Nisayu, Junggo.
15 Agusutu’, 10 Sawwala’, allo kammisi’.
Nanisunna’ ana’na Saiye Bukhari nikana Qiamuddin.
1 Satembere’, 27 Sawwala’, bangngi Aha’.
Nammana’ I Daeng Marannu I Sugi ri Daeng Manassa’
I Muhamma’ bura’ne ana’na I Jamaluddin.
27 Satembere’, 24 Dolokaeda, bangngi Juma’.
Nanianakkang I Manimbang Gau’ Muhyiddin.
6 Okotoboro’, 4 Dolohajji, allo Aha’.
Nanipare’ Palili’ Bori’ Sallo sipuwe.
10 Okotoboro’, 10 Dolohajji, allo Kammisi’.
Nanipanaung ri biseang Lontara’ naeranga Karaenta ri
Bontopanno kalau’ ri Jakattara’ attarimakasi’ nasareanta
Topejawa.
11 Okotoboro’, 9 Dolohajji, allo Juma’.
Namate I Daenta Daeng Tongji I Tallo’.
16 Okotoboro’, 14 Dolohajji, allo Araba.
Namammana’ Toaku I Thebah, bura’ne.
24 Okotoboro’, 22 Dolohajji, allo Kammisi’.
Namammana’ I Saena’ pallalowanna Karaenta Tama’la’lang
I Kappara’, baine ana’na.
Hijra’ Sanna’ 1133
15 Nowembere’, 14 Muharrang, allo Juma’.
Nania’ ilau’ ri Kampong Beru Puanna I Matta’ battu malari
assulu’ mae ri Balandaiya le’ba’na nipasulu’.
18 Nowembere’, 17 Muharrang, allo Sanneng.
Nasore Arung Pone battu ri Cenrana sikalabini.
10 Desembere’, 9 Sappara’, allo Salasa.
Namate I Daeng Nisanga I Qamariah bainenna Tu Bagusu’
Matoa
11 Desembere’, 10 Sappara’, allo Araba.
Nasipela’ I Daeng Manassa’ I Muhamma’ I Dang Marannu
I Sugi.
15 Desembere’, 14 Sappara’, allo Aha’.
Nanirappung nanipasulu’ Toaku I Daeng Ma’leo’.
17 Desembere’, 16 Sappara’, allo Salasa.
Namammana’ I Aci’ bainenna I Daeng Tulolo, bura’ne.
18 Desembere’, 17 Sappara’, allo Araba’.
Na I Daeng Masse’re I Pappi’ nipantama anjannangi ana’
Karaeng Salaya.
22 Desembere’, 21 Sappara’, allo Aha’.
Nania’mo battu ri Sandawo Toaku I Daeng Talarra’ battu
nicinde
Hera 1721
9 Janiari, 10 Rabele’ Awala’, allo Kammisi’.
Namate I Manrewakki ana’na I Pappi’.
13 Janiari, 14 Rabele’ Awala’, allo Sanneng.
Nanipa’bajikang Puanna I Matta’ Arung Pone ri Balandaiya.
18 Janiari, 19 Rabele’ Awala’, allo Sattu.
Nabunting Daengku Karaeng Majannang Daengku Karaeng
Tabaringang.
11 Pabereweri, 13 Rabele’ Ahera’, bangngi Salasa.
Namate Karaenta ri Balla’ Jawaya umuru’na 89.
15 Pabereweri, 21 Rabele’ Ahera’, bangngi Juma’.
Namammana’ I Daeng Rikong I Jaga, bura’ne.
21 Pabereweri, 23 Rabele’ Ahera’, bangngi Juma’.
Nasikalabini Karaeng Bontotangnga I Salira.
5 Marasa’, 5 jumadele’ Awala’, bangngi Araba.
Nama’labu Kappala’ nadongkokiya Karaenta ri Bontopanno
battu ri Jakattara’.
14 Marasa’, 14 Jumadele’ Awala’, bangngi Juma’.
Nasikalabini I Daeng Manassa’ i Muhammba’ I Saena’ ana’na
I Papu’.
17 Marasa’, 17 Jumadele’ Awala’, allo Sanneng.
Namate ana’na I Daeng Manassa’ Paci’ ri Salera.
26 Marasa’, 26 Jumadele’ Awala’, allo Araba.
Allo nakamateyanga Addatuang Massepe Matoaiya.
4 Abarele’, 6 Jumadele’ Ahera’, allo Juma’.
Namate I Ma’rumai bainenna Karaeng Mangesu’.
19 Mai, 27 Rajja’, allo Sanneng.
Namanta’le ri Sandawo I Daeng Manassa’ I Papu’ nisuro
ammpanaiki Taring.
20 Mai, 23 Jumadele’ Ahera’, allo Araba.
Namammana’ I Daeng Tamami bainenna I Daeng
Mannangara’ bura’ne.
7 Juli’ 11 Sa’bang, allo Salasa.
Nanitinting nanikesok Karaeng Patukangan, nani pasiparekangang
Tumamenanga ri Jawaiya.
22 Juli, 26 Sa’bang, allo Aha’
Nasikalabini Putoku Karaeng Panaikang ayaku I Daeng Ningai.
25 Juli, 29 Sa’bang, allo Araba.
Namate suroiya I Kare Takko.
3 Agusutu’, 7 Rumallang, allo Kammisi’.
Namate boeku I Kare Lu’mu’ Anrongna Daenta Daeng Singara’.
29 Agusutu’, 26 Dolohajji, allo Juma’.
Nanikana nia’ jarang ammana’ tedong irate ri Sengka.
Nakamateanga Datuiya ri Citta.
11 Satembere’, 19 Dolohajji, bangngi Kammisi’.
Nabattu ri Sandawo Daeng Manassa’.
9 Okotoboro’, 17 Dolohajji, bangngi Kammisi’.
Namammana’ I Nannu’ bainenna Daeng Makkulle I Mappa’
nipappala’ popporang ri Karaenga.
Hijra’ Sanna’ 1134
24 Okotoro’, 3 Muharang, allo Juma’.
Nabattu ri Sambawa Karaeng Bontomate’ne.
28 Okotoboro’, 7 Muharrang, allo Salasa.
Namate I Halima’, umuru’na 2 taung assibulang allimang bangngi.
3 Nowembere’, 11 Muharrang, allo Sattu.
Namate I Bangung ana’na Putoku Karaeng Patte’ne.
27 Nowembere’, 7 Sappara’, allo Kammisi’.
Namate ana’na Karaeng Bontomate’ne.
28 Nowembere’, 8 Sappara’, allo Juma’.
Naniana’kang I Punca Pattola Sitti Hawa.
Label:
JEJAK MAKASSAR
Sabtu, 19 April 2014
Nama-Nama Raja Kerajaan Gowa dari Tahun 1320 sampai dengan Tahun 1957
![]() |
| Mahkota Raja Gowa |
| No. | Nama Raja | Periode |
| 1. | Tumanurung Bainea (Putri Ratu) | - |
| 2. | Tamasalangga Baraya | 1320 - 1345 |
| 3. | I Puang Loe Lembang | 1345 - 1370 |
| 4. | I Tuniata Banri | 1370 - 1395 |
| 5. | Karampang Ri Gowa | 1395 - 1420 |
| 6. | Tunatangka Lopi | 1420 - 1445 |
| 7. | Batara Gowa Tuniawangngang Ri Paralakkenna | 1445 - 1460 |
| 8. | IPakereÕ Tau Tunijallo Ri Passukki | 1460 |
| 9. | Dg. Matanre Krg. Mangngutungi TumapaÕrisi Kallonna | 1460 - 1510 |
| 10. | I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng. | 1510 - 1546 |
| 11. | I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng DataÕ Tunibatta | 1546 - 1565 |
| 12. | I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo. | 1565 (40 hari) |
| 13. | I Tepu Karaeng Daeng Parabbung Karaeng Bontolangkasa Tunipasulu Tumenanga Ri Butung. | 1565 - 1590 |
| 14. | I Mangngerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tumenanga Ri Gaukanna | 1590 - 1593 |
| 15. | I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiung Sultan Malikussaid Tumenanga Ri Papan Batuna. | 1593 - 1639 |
| 16. | I Mallombasi Dg Mattawang Muhammad Basir Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Ballapangka. | 1639 - 1653 |
| 17. | I Mappasomba Daeng Nguraga Karaeng Lakiung Sultan Amir Hamzah Tumammalianga Ri Allu. | 1653 - 1669 |
| 18. | I Mappaossong Daeng Mangewai Karaeng Bisei Sultan Muhammad Ali Tumenanga Ri Jakattara. | 1669 - 1674 |
| 19. | I Mappadulung Daeng Mattimung Karaeng Sanro BoneSultan Abdul Jalil Tumenanga Ri Lakiung. | 1674 - 1677 |
| 20. | La Pareppa Tu Sappewalia Karaeng AnaÕ Moncong Sultan Ismail Tumenanga Ri Somba Opu. | 1677 - 1709 |
| 21. | I Mappau'rangi Karaeng Boddia Sultan Sirajuddin Tumenanga Ri Passiringanna. | 1709 - 1711 |
| 22. | I Manrabia Karaeng Kanjilo Sultan Najamuddin Tumenanga Ri Jawaya. | 1712 - 1724 |
| 23. | I Mappau'rangi Karaeng Boddia Sultan Sirajuddin Tumenenga Ri Passiringanna (Kedua kalinya) | 1724 - 1729 |
| 24. | I Mallawagau Karaeng Lempangang Sultan Abdul Khair Al Mansyur Tumenanga Ri Gowa. | 1729 - 1735 |
| 25. | I Mappababbasa Sultan Abdul Kudus Tumenanga Ri Bontoparang. | 1735 - 1742 |
| 26. | Amas Madina ÒBatara Gowa IIÓ Sultan Usman (diasingkan ke Sailon oleh Belanda) | 1742 - 1753 |
| 27. | I Mallisu Jawa Daeng Riboko Karaeng Tompobalang Sultan Maduddin Tumenanga Ri Tompobalang. | 1767 - 1769 |
| 28. | I Temmasongeng / I Makkaraeng Daeng Mattimung Karaeng Katangka Sultan Zainuddin Tumenanga Ri Mattoanging. | 1769 - 1778 |
| 29. | I Mannawarri / I Sumaele (Ismail) Karaeng Bontolangkasa Karaeng Sanrobone Karaeng Mangasa Sultan Abdul Hadi Tumenanga Ri Lambusu'na/SambungJawa. | 1778 - 1810 |
| 30. | I Mappatunru / I Manginyarang Krg Lembangparang Sultan Abdul Rauf Tumenanga Ri Katangka. | 1816-1825 |
| 31. | La Oddangriu Daeng Mangeppe Karaeng Katangka Sultan Muhammad Zainal Abidin Abd. Rahman Amiril MuÕminin Tumenanga Ri Suangga | 1825 - 1826 |
| 32. | I Kumala Daeng Parani Karaeng Lembangparang Sultan Abdul Kadir Aididin Tumenanga Ri Kakuasanna. | 1826 - 1893 |
| 33. | I Mallingkaan Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Muhammad Idris Tumenanga Ri KalaÕbiranna. | 1893 - 1895 |
| 34. | I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Muhammad Husain Tumenanga Ri BunduÕna. | 1895 - 1906 |
| 35. | I Mangngi-mangngi Daeng Mattutu Karaeng Bontonompo Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin Karaeng Ilanga Tumenaga Ri Sungguminasa. | 1936 - 1946 |
| 36. | Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aiduddin Tumenanga Ri Jongaya. | 1946 - 1957 |
Label:
JEJAK MAKASSAR
Selasa, 25 Maret 2014
Menelusuri Jejak Syariah Kerajaan Gowa-Tallo di Sulawesi Selatan
oleh : Hizbut Tahrir Sulawesi Selatan
Sejarah Gowa tentu tidak dapat dipisahkan dengan Islam, dimana daerah ini menjadi salah satu kabuapten di Sulawesi Selatan yang kini berpenduduk tidak kurang dari 600 ribu jiwa yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Dulunya Daerah ini adalah Kerajaan Besar yang menguasai bagian timur Indonesia. Setelah Kerajaan Gowa-Tallo memeluk Islam, maka penyebaran Islam di Sulawesi dan bagian timur Indonesia sangat pesat. Sehingga bagi kita saat ini sangat mengagumi keberhasilan Kerajaan Gowa-Tallo dalam menorehkan tinta emas sejarah peletakan dasar dan penyebaran Islam dibagian timur negeri ini. Bahkan mungkin kita juga perlu tahu bahwa Kerajaan Gowa-Tallo telah berusaha sekuat tenaga menerapkan syariat Islam pada waktu itu, sekalipun kelihatan masih sangat "sederhana" sesuai kondisi pada waktu itu namun cukup berpengaruh pada masa-masa selanjutnya. Maka wajar kalau Gowa ini dikenal sebagai "Serambi Madinah". Maka tulisan ini berupaya menyegarkan ingatan kita kembali tentang Sejarah gemilang ini.
Awal masuknya Islam
Sebagaimana diketahui umum bahwa penyebaran Islam di Nusantara pada awalnya melalui perdagangan, maka demikian halnya dengan kedatangan Islam di gowa tidak terlepas dari faktor dagang. Penyebaran Islam yang dilakukan oleh para pedagang dimungkinkan karena didalam ajaran Islam tidak dibedakan antara tugas keagamaan seorang muslim, sebagai penyebar nilai-nilai kebenaran, dan profesinya sebagai pedagang. Setiap Muslim, apapun profesinya dituntut untuk menyampaikan ajaran Islam sekalipun satu ayat.1
Sekalipun para pedagang Muslim sudah berada di Sulawesi Selatan sejak akhir abad XV, tidak diperoleh keterangan secara pasti, baik dari sumber lokal maupun sumber dari luar, tentang terjadinya konversi kedalam Islam oleh salah seorang raja setempat pada masa itu sebagaimana yang terjadi pada agama Katolik. Agaknya inilah yang menjadi faktor pendorong para pedagang melayu mengundang tiga orang Muballigh dari Koto Tangah (Kota Tengah2) Minangkabau agar datang di Makassar mengislamkan elit Kerajaan Gowa-Tallo. Inisiatif untuk mendatangkan Muballigh khusus ke Makassar, sudah ada sejak Anakkodah Bonang (Nahkodah Bonang3) seorang ulama dari Minangkabau sekaligus pedagang, berada di Gowa pada pertengahan abad XVI (1525), tetapi nanti berhasil setelah memasuki awal abad XVII dengan kehadiran tiga orang Muballigh yang bergelar datuk dari Minangkabau.4
Lontara Wajo menyebutkan bahwa ketiga datuk itu datang pada permulaan abad XVII dari Koto Tangah, Minangkabau. Mereka dikenal dengan nama Datuk Tellue (Bugis) atau Datuk Tallua (Makassar), yaitu:
a. Abdul Makmur, Khatib Tunggal, yang lebih populer dengan nama Datuk ri Bandang.
b. Sulaiman, Khatib Sulung, yang lebih populer dengan nama Datuk Patimang.
c. Abdul Jawad, Khatib Bungsu, yang lebih dikenal dengan nama Datuk ri Tiro.
Ketiga alim ulama tersebut yang berasal dari Kota Tengah Minangkabau, konon diutus oleh Sultan Aceh dan Sultan Johor untuk mengembangkan dan menyiarkan agama Islam di Sulawesi selatan. Mereka terlebih dahulu mempelajari kebudayaan orang Bugis-makassar, di Riau dan Johor, dimana banyak orang-orang Bugis-Makassar berdiam, sesampainya di Gowa, mereka memperoleh keterangan dari orang-orang Melayu yang banyak tinggal di Gowa, bahwa raja yang paling dimuliakan dan dihormati adalah Datuk Luwu' sedangkan yang paling kuat dan berpengaruh ialah raja Tallok dan raja Gowa.5
Graaf dan Pigeaud mengemukakan bahwa Datuk ri Bandang sebelum ke Makassar lebih dahulu belajar di Giri. Datuk ri Bandang dan temannya yang lain ketika tiba di Makassar, tidak langsung melaksanakan misinya, tetapi lebih dahulu menyusun strategi dakwah. Mereka menanyakan kepada orang-orang Melayu yang sudah lama bermukim di Makassar tentang Raja yang paling dihormati. Setelah mendapat penjelasan, mereka berangkat ke Luwu untuk menemui Datuk Luwu', La Patiware Daeng Parabu. Datuk Luwu adalah raja yang paling dihormati, karena kerajaanya dianggap kerajaan tertua dan tempat asal nenek moyang raja-raja Sulawesi Selatan. Kedatangan Datuk Tellue mendapat sambutan hangat dari Datuk Luwu', La Patiware Daeng Parabu.6
Raja Gowa-Tallo Masuk Islam dan menjadi Kerajaan Islam
Setelah Datuk Tellue (Datuk yang Tiga) berhasil mengislamkan Datuk Luwu' dan keluarganya pada 15 Ramadhan 1013 H atau 1603 M (Lontarak Sukkukna Wajo') dan raja Luwu' La Patiwarek Daeng Parabbung diberikan gelar Sultan Muhammad Waliul Mudharuddin (Andaya, 1981:304: Andi Rasydiana, 1995:60). Oleh karena La Patiwarek Daeng Parabbung adalah ipar raja Gowa I Mangarangi Daeng Manrabia, yaitu permaisurinya Karaengta ri Ballakbugisik adalah saudara raja Gowa, maka orang-orang Minang itu memohon supaya raja Luwu' meminpin pengislaman orang-orang Sulawesi Selatan.7
Mereka lalu menyusun strategi baru dengan memprioritaskan daerah-daerah tertentu untuk menyebarkan Islam selanjutnya, yaitu dengan membagi tenaga dan daerah sasaran dakwah disesuaikan dengan keahlian mereka dan kondisi kultur daerah masing-masing.
Andi Kumala Idjo, SH. Yang saat ini sebagai pewaris putra mahkota Kerajaan Gowa sekarang ini, menuturkan bahwa dalam hal membagi tenaga dan daerah sasaran dakwah dari tiga Muballigh ini (Datuk Tallua), maka Abdul Makmur Khatib Tunggal, Datuk ri Bandang berdakwah di daerah Gowa yang kemudian mengislamkan raja Gowa-Tallo, lalu Sulaiman, Khatib Sulung, Datuk Patimang berdakwah di Luwu, sedangkan Abdul jawad, Khatib Bungsu, Datuk ri Tiro berdakwah di daerah Bulukumba. I Mangngerangi Daeng Manrabia dinobatkan menjadi raja sejak umur 7 tahun dan pada waktu masuk Islam usianya baru 17 tahun.8
Menurut Lontarak Sukku'na Wajo' dan Lontarak Patturiolong Tallo' bahwa raja Gowa I Mangakrangi Daeng Manrabia memeluk agama Islam pada hari Kamis malam atau malam Jumat 9 Jumadil Awal 1014 H (22 September 1605 M). Setelah I Mallingkaan Daeng Manyonri' memeluk agama Islam (Abd. Razak Daeng Patunru', 1967:19) maka menyusullah raja Gowa. Raja Gowa-Tallo ini memeluk Islam pada hari yang sama yaitu pada hari Kamis malam atau malam Jumat, dan mungkin sekali yang mengucapkan Syahadat pertama kali adalah I Mallingkaan Daeng Manyonri' (Noorduyn, 1953:93).9
Setelah Raja Gowa-Tallo' masuk Islam pada tahun 1605 M yaitu I Managarangi Daeng Manrabia, Sultan alauddin (raja Gowa XIV) dan I Mallingkaan Daeng Manyonri', Sultan Abdullah Awwalul Islam. Maka hanya dalam waktu dua tahun yaitu ditahun 1607, rakyat Gowa dan tallo' pada umumnya sudah memeluk agama Islam dan raja Gowa memaklumkam, bahwa agama Islam adalah agama resmi kerajaan di Gowa-Tallo'.10
Perlu dicatat bahwa rakyat yang berbondong-bondong memeluk agama Islam mengikuti raja mereka pada waktu itu bukanlah karena dipaksa atau diancam akan tetapi mereka setelah menyadari kebenaran agama Islam berkat penerangan agama (dakwah, pen.) yang dberikan secara intensif oleh ulama Abdul Khatib Makmur dan kawan-kawan yang bermukim dikampung Kalukubodoa (Lontarak Sukkukna Wajo'). Menurut Lontarak Bilang Gowa bahwa pada tanggal 9 Nopember 1607, 18 Raja Hijara Sanna 1017 allo Juma'nauru mammenteng Jumaka ri Tallo', uru sallanta. Ia anne bedeng bunduka ri Tamapalo (artinya: Mula (Pertama kali, pen.) diadakan shalat Jumat di Tallo, ketika mula (sejak, pen.) masuk Islam, Dalam tahun ini konon terjadinya perang Tamapalo).11
Penyebaran Islam oleh Kerajaan Gowa-Tallo'
Sejak resminya agama Islam di gowa-Tallo', maka raja Gowa Sultan Alauddin makin kuat kedudukannya sebab beliau juga diakui sebagai Amirul Mukminin (kepala agam Islam) dan kekuasaan Bate Salapanga diimbangi oleh Qadhi, yang menjadi wakil raja untuk urusan keagamaan bahkan oleh orang-orang Makassar, Bugis dan Mandar yang telah lebih dahulu memeluk agama Islam pada abad XVI. Sultan alauddin dipandang sebagai pemimpin Islan di Sulawesi selatan.
Cara pendekatan yang dilakukan oleh Sultan Alauddin dan Pembesar Kerajaan Gowa adalah mengingatkan perjanjian persaudaraan lama antara Gowa dengan negeri atau kerajaan yang takluk atau bersahabat yang berbunyi antara lain, bahwa barangsiapa diantara kita (Gowa dan sekutunya atau daerah taklukannya) melihat suatu jalan kebajikan, maka salah satu dari mereka yang melihat itu harus menyampaikan kepada pihak lainnya.12
Maka dengan dalih bahwa Gowa sekarang sudah melihat jalan kebajika yaitu agama islam, Kerajaan Gowa meminta kepada kerajaan-kerajaan taklukannya agar turut memeluk agama Islam.
Maka pendekatan serupa ini banyak hasilnya. Namun kerajaan-kerajaan yang merasa dirinya sudah mampu dan dewasa dibidang pemerintahan, menolak ajakan itu.
Beberapa kerajaan kecil sekitar Gowa memenuhi seruan memeluk Islam, akan tetapi kerajaan Bugis dan Mandar yang kuat seperti Bone, Soppeng, Wajo', Sidenreng, Sawitto, Suppak, Balannipa dan kerajaan Mandar lain menolak keras ajakan itu, karena disebabkan faktor-fakator sebagai berikut:
a. mereka sukar meninggalkan kegemaran makan babi, minum tuak, sabung ayam dengan berjudi, beristri banyak dan lain-lain.
b. Mereka khawatir bahwa mereka akan dijajah oleh Gowa
Kepada yang menolak itu dikirimkan peringatan, tapi tiap kali ada pesan, tiap itu pula ditolak. Dengan alasan mereka itu mau membangkan dan melawan, maka terpaksa Gowa mengangkat senjata menundukkan mereka.
Empat kali dikirim balatentara untuk memerangi raja-raja bugis, akan tetapi selalu dikalahkan oleh persekutuan raja-raja bugis, terutama Kerajaan Tellumpoccoe: Bone, Soppeng dan Wajo yang menutup aliansi pada tahun 1582 (Noorduyn, 1955:84) berdasarkan Boeg.Chr.I, h. 484).13
Demikianlah pada tahun 1609 angkatan perang Gowa yang tangguh dikirim ke pedalaman, mula-mula ke Ajatappareng (Suppak, Sawitto, Rappang, Sidenreng) lalu tunduk dan menerima Islam sebagai agama kerajaan. Juga dalam tahun 1609 itu Kerajaan Soppeng menerimanya, tahun 1610 Kerajaan Wajo, dan tahun 1611 Kerajaan Bone.14
Kerajaan Luwu' dan Mandar tanpa ancaman perang memang sudah mennjadikan Islam sebagai agama Kerajaan.15
Begitu juga diterima dikerajaan-kerajaan Enrekang Kerajaan tellu Lembana dan Tellu Batu Papan menerima ajakan Kerajaan Gowa.16
Pengislaman seluruh Sulawesi selatan dijalankan oleh Gowa mulai tahun 1605 M sampai tahun 1612 M.17
Untuk memperluas penyebaran Islam terutama bagian timur Nusantara dan juga untuk menghadapi imperialisme Eropa (VOC/Belanda), maka sejumlah daerah-daerah strategis ditaklukkan lebih dahulu, untuk melindungi garis pertahanan Kerajaan Gowa XIV Sultan Alauddin, maka secara berturut-turut menaklukkan Bima di Nusa Tenggara pada tanggal 16 April 1617, Bima dan Sumbawa kembali ditundukkan pada tanggal 16 April 1619 karena kedua kerajaan di Nusa Tenggara itu melakukan pembrontakan kepada kekuasaan Gowa, Kerajaan Taliwang pada tanggal 13 Maret 1621, Kerajaan Buton (Wolio) di Sulawesi Tenggara pada tanggal 17 April 1624, penaklukan ini dipimpin langsung oleh raja Gowa Sultan Alauddin, KabaEna di sulawesi Tenggara pada tanggal 11 September 1633, Sula dan Banggai di Sulawesi Tengah pada tanggal 22 Agustus 1634. Pada tahun 1634 pasukan Kerajaan Gowa menduduki beberapa daerah dipesisir Sulawesi bagian Utara seperti Manado, Gorontalo dan Tomini.18
Ketika mendengar Belanda menduduki Ambon Maluku maka raja Gowa bersepakat dengan raja Ternate dan lain-lain raja didaerah Maluku untuk menghantam Belanda dimanapun ia berada. Rencana penyerangan ini diketahui oleh Kompeni Belanda maka Gubernur Belanda di Ambon bernama Herman Van Der Speult tahun 1625 ingin mengadakan perjanjian dengan Sultan Alauddin akan tetapi maksud tadi tidak tercapai. Malah armada Kerajaan Gowa bersama armada Kerajaan Ternate menyerang Belanda diperairan Maluku, Serangan itu berlansung dari tahun 1627 sampai tahun 1630.19
Serangan Gowa dan Terante ini dimaksudkan untuk menghadang monopoli Kompeni Belanda dalam perdagangan rempah-rempah dibagian timur Indonesia. Pertempuran ini berlangsung hingga tahun 1636 dimana Belanda mengalami kekalahan dan kerugian besar, akhirnya Kompeni Belanda ingin berunding dengan Gowa, dan terjadilah perundingan yang pertama ini pada tanggal 16 Juni 1637. 20
Perlu diketahui bahwa sebelum perjanjian damai pertama itu tercapai, maka pada hari Rabu 1 Oktober 1636 raja Tallo/Mangkubumi Kerajaan Gowa, I Mallingkaan Daeng Manyonri' Karaeng Katangka Sultan Awwalul Islam, paman Sultan Alauddin Wafat. Sementara itu baginda diberi gelar Anumerta Tumenga ri agmana (raja yang wafat dalam agamanya) semasa hidupnya bagida juga lazim disebut "Karaeng Matowaya".
Tiga tahun kemudian yaitu pada tanggal 15 Juni 1639 setelah hampir 50 tahun memegang tampuk pemerintahan di Gowa, maka Sultan Alauddin raja Gowa XIV wafat, kemudian diberi gelar anumerta "Tumenanga ri gaukanna" (yang mangkat dalam kebesaran kekuasaannya).
Raja Gowa Sultan Alauddin semasa hidupnya mengadakan pula perjanjian persahabatan dengan raja Mataram dan raja Aceh.
Sultan Alauddin mengangkat senjata melawan Kompeni Belanda selama 23 tahun, dari tahun 1616 sampai 1639.
Kerajaan Gowa-Tallo berjuang melawan Imperialisme
Sultan Alauddin raja Gowa XIV yang mangkat tanggal 15 Juni 1639 digantikan oleh Putranya yang bernama I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiung, sebagai raja Gowa XV (1639-1653). Bagida diberi gelar Sultan Muhammad said, kemudin mendapat gelar dari Mufti Arabia "Sultan Malikussaid". Baginda didampingi oleh Mangkubumi (Raja Tallo') I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang.
Kemasyhuran Sultan Malikussaid sampai ke Eropa, tersebar di Asia, baginda mengadakan persahabatan dengan Gubernur Spanyol di Manila, dengan raja muda Portugis di Hindustan, dengan raja Inggris, Raja Spanyol dan Mufti Arabia di Makkah.
Akan tetapi ketenaran itu terutama disebabkan oleh jasa-jasa dari Karaeng Pattingalloang (Raja Tallo) sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa yang sangat masyhur keahliannya dalam dunia diplomasi. Mangkubumi ini terkenal sebagai cendikiawan yang mahir dalam berbagi bahasa asing seperti Portugis, Spanyol, Inggris, Perancis dan Arab.Ia menulis buku-buku ketatanegaraan, perdagangan dan pelbagai unadang-undang.
Sultan Malikussaid juga meneruskan perjuangan melawan imperialisme karena kompeni Belanda melanggar perjanjian yang telah disepakati dengan Sultan Alauddin. Oleh karena itu beliau tetap melakukan perang terbuka melawan imperialisme Barat yang hendak diwujudkan oleh Kompeni Belanda mulai dari Maluku.
Dizaman Sultan Malikussaid Kerajaan Gowa berada dipuncak kejayaan yang terpancar dari Sombaopu, ibukota Kerajaan Gowa ke timur sampai ke selat Dobo, keutara sampai ke Sulu, ke barat sampai ke Kutai dan ke selatan melalui Sunda Kecil, diluar pulau Bali sampai ke Marege (bagian utara Australia). Ini menunjukkan kekuasaan yang luas meliputi lebih dari 2/3 wilayah Nusantara.
Raja Gowa XV ini wafat setelah 14 tahun lamanya memegang pimpinan Kerajaan dari tahun 1639 sampai 1653, diberi gelar anumerta Tumenanga ri Papanbatuna.
Sultan Malikussaid yang wafat 6 Nopember 1653, digantikan oleh putranya I Mallombasi Daeng Mattawang yang diberi gelar Sultan Hasanuddin (1653-1669), baginda lahir pada tanggal 12 juni 1631 dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.
Seperti pada zaman Pemerintahan ayahandanya Sultan Malikussaid, juga pada zaman pemerintahan Sulta Hasanuddin, Kerajaan Gowa masih dipuncak kekuasaan, ketenaran dan kebesaran, baik kedalam maupun keluar negeri, namun sepanjang 16 tahun masa pemerintahannya, ketegangan Gowa melawan VOC/Belanda terus meruncing, malah pertempuran laut antara armada Gowa dengan Belanda tetap memuncak.
Diawal pemerintahan Sultan Hasnauddin, pada tanggal 15 September 1654 Mangkubumi Karaeng Pattingalloang (raja Tallo') wafat, dan dimakamkan di Bontobiraeng Gowa, sebab itu dibri gelar anumerta "Tumenanga ri bontobiraeng". Beliau digantikan oleh putranya Karaeng Karunrung (raja Tallo') sebagai mangkubumi. Beliau seorang yang gagah berani , terkenal seorang yang keras hati dan tidak pernah mau kompromi dengan Belanda.
Sultan Hasnuddin sangat gigih melawan Belanda sehingga kemudian dijuluki ayam jantan dari Timur, selama pemerintahannya berhasil memukul mundur Belanda berkali-kali sehingga Belanda mengalami kekalahan dan kerugian yang sangat besar. Inilah kemudian Belanda selalu ingin berdamai dengan Gowa akan tetapi Sultan Hasanuddin selalu menolaknya.
Namun demikian Belanda tidak menyerah yang pada akhirnya berhasil menghimpun kekuatan dengan memamfaatkan Latenritatta Arung Palakka, Raja Ternate, Sultan Buton dan Kompeni Belanda bersepakat menyerang Gowa dengan berbagai alasan masing-masing, pada tanggal 2 Nopember 1666. maka pertempuran demi pertempuran terjadi antara pasukan Lasykar Gowa dengan gabungan pasukan kompeni Belanda dan Lasykar-lasykar sekutunya. Yang pada akhirnya ditandanganilah perjanjian Bungaya pada tanggal 18 Nopember 1667 yag isinya sangat merugikan Gowa. Sehingga Gowa masih melakukan perlawanan dengan keberanian Karaeng Karunrung (raja Tallo) Mangkubumi Kerajaan Gowa menhimpun kekuatan melawan Belanda hingga jatuhnya Benteng Sombaopu yang merupakan pertahanan utama Kerajaan Gowa pada tahun 1669.
Fakta Penerapan Syariat Islam
Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa-Tallo diseluruh Sulawesi Selatan bahkan sampai kebagian timur Nusantara, telah memberikan pengaruh dan perubahan terhadap kehidupan sosial masyarakat yang meliputi segala bidang, baik aspek politik, pemerintahan, ekonomi maupun sosial-budaya. Tentu perubahan ini adalah mengarah kepada islamisasi segala aspek kehidupan tersebut. Karena begitu kuatnya pengaruh islam yang dikembangkan oleh para muballigh dengan dukungan para raja-raja yang telah memeluk Islam, maka rakyat kerajaan berbondong-bondong memeluk Islam tanpa mereka dipaksa ataupun diancam.
Maka bisa kita lihat bagaimana proses Islamisasi di Sulawesi Selatan yang dimulai pada abad ke-17 ini dapat merubah sendi-sendi "Pangngadakkan (Makssar) atau Pangngaderreng (Bugis) yang menyebabkan pranata-pranata kehidupan sosial budaya orang Makassar dan Bugis, Mandar dan lain-lain memperoleh warna baru, karena sara' (syariat) telah masuk pula menjadi salah satu dari sendi-sendi adat-istiadat itu. Pangadakkang/Pangngaderreng adalah sistem pranata sosial yang berisi kitab undang-undang dasar tertinggi orang Bugis/Makassar.21 Sistem paranata sosial ini sudah lama mengakar dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat Bugis/Makassar. Sebelum Islam datang Pangngadakkan ini terdiri 4 sendi yaitu; Ade' (Adat istiadat), Rapang (Pengambilan keputusan berdasarkan perbandingan), Wari' (Sitem protokoler kerajaan), dan Bicara (Sistem hukum). Kemudian bertambah satu sendi lagi yakni Sara' (syariat Islam) setelah Islam resmi diterima sebagai agama kerajaan.22
Dalam prakteknya 4 (empat) dari yang pertama, dipegang oleh Pampawa Ade' (Pelaksana Adat) yaitu Raja dan Pembantu-pembatunya, sedangkan yang kelima dipegang oleh Parewa Sara' (perangkat Syariat) dipimpin oleh Ulama, Imam, Kadi (Qodhi), dan para pembantunya. Kedua Lembaga ini memiliki fungsi dan tugas sesuai bidangnya masing-masing dan memiliki kekuasaan otonomi tersendiri. Pemimpin tertinggi Pampawa Ade' adalah Raja yang khusus menangani pemerintahan, sedangkan pemimpin tertinggi Parewa sara' adalah ulama yang menagani hal-hal yang berhubungan dengan syariat Islam. Adanya dikotomi tugas ini berimplikasi pada sistem pengaturan sosial selanjutnaya, tetapi tidak berarti terjadi sekularisasi antara urusan Kerajaan dan keagamaan (bukan pemisahan negara dengan Islam, pen.). Sebab dalam prakteknya keduanya saling mengisi atau beriringan, namun adat tetap tunduk kepada ajaran (syariat) Islam. Sehingga yang terjadi adalah syariat Islam tetap bertoleransi kepada adat sepanjang tidak bertentangan dengan pelaksanaan syariat Islam. Karena syariat Islam telah masuk kedalam sistem Pangngadakkan/Pangngaderreng, maka wibawa dan kepatuhan rakyat kepada Islam dan adat sama kuatnya.23
Syariat Islam dibidang sosial
kemasyarakatan.
Ada beberapa conntoh penerapan syariat Islam dalam undang-undang Pangngadakkan/Pangngaderreng dapat dilihat diantarnya :
Perzinahan
Pada wanita atau pria yang berzina setelah menikah, dimana didalam Islam dirajam yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk dicemplungkan hidup-hidup kedasar laut.24 Jika yang bezinah adalah pria atau wanita lajang maka dihukum cambuk.25
Kawin Lari (silariang (Makassar))
Apabila sepasang muda-mudi kawin lari (silariang) atau kabur, bila tiba dirumah Imam (Abballa' imang/mabbola imang) ia akan dilindungi dari kejaran to masiri'na (mahram) demi menghargai otonomi imam yang akan menikahkan mereka menurut syariat Islam. Bila ditemukan diluar rumah Imam, to masiri'na berhak menghukumnya sesuai ketentuan adat karena berada dibawa wilayah otonomi adat.26
Wanita dalam menerima tamu, safar dan berpakain.
Para penjaga wanita Bugis-Makassar, istilah mahram diterjemahkan to masiri'na27 (diadopsi dari budaya siri') yang berfungsi menjaga dan melindungi nama dan harkat perempuan. Itulah sebabnya jika tidak ada to masiri'na didalam rumah, wanita dilarang menerima tamu laki-laki. Begitu pula bila bepergian, dia harus dikawal oleh to masiri'na (mahram) dan juga selalu menggunakan dua sarung, satu diikat dipinggang (appalikang (makassar)) dan satunya lagi dipakai menutup kepala (berkerudung) atau "abbongong (makassar)". Begitu juga dalam pakain adat Gowa, sebelum Islam, sudah dikenal pakain Baju Bodo (baju yang lengannya pendek), lalu setelah Islam menjadi agama Kerajaan Gowa, maka baju Bodo diganti menjadi Baju Labbu seperti dituturkan oleh Andi Kumala Idjo, SH selaku putra mahkota pewaris tahta kerajaan Gowa sekarang ini menggantikan Raja Gowa ke-36 Andi Idjo Daeng mattawang Karaeng Lalolang (1946-1960).28
Berbagai penerapan syariat yang lain
Di Kerajaan Wajo misalnya setelah Arung Matowa (Raja) Wajo ke-XII yang bernama La Sangkuru' Mulajaji memeluk Islam tahun 1610, maka raja Gowa mengirim ulama Minangkabau Sulaiman Khatib Sulung yang sudah kembali dari Luwu'. Khatib Sulung mengajarkan tentang keimanan kepada Allah dan segala larangan-larangannya, seperti:29
a. dilarang mappinang rakka' (memberi sesajen kepada apa saja)
b. dilarang mammanu-manu' (bertenung tentang alamat baik-buruk melakukan suatu pekerjaan)
c. dilarang mappolo-bea (bertenung melihat nasib)
d. dilarang boto' (berjudi)
e. dilarang makan riba (bunga piutang)
f. dilarang mappangaddi (berzinah)
g. dilarang minum pakkunesse' (minuman keras)
h. dilarang makan cammugu-mugu (babi)
i. dilarang mappakkere' (mempercayai benda keramat)
Setelah ketentuan-ketentuan ditetapkan maka Arung Matowa Wajo mempercayakan pengurusan dan penyusunan aparat sara' (pejabat syariat, pen.) kepada Sulaiman Khatib Sulung. Sebagaimana sudah kita sebutkan sebelumnya bahwa Parewa Sara' inilah yang mendampingi raja dalam menjalankan syariat Islam. Maka sudah barang tentu bahwa apabila terjadi pelanggaran terhadap larangan-larangan yang telah ditetapkan diatas, pasti pelakunya akan dijatuhi hukuman/sanksi sesuai syariat Islam. Dan tentu hal serupa terjadi pada seluruh Kerajaan dibawa kekuasaan gowa ini, karena bisa kita lihat bahwa secara umum berlaku sistem Pangngadakkan/Pangngaderreng selalu terdiri dari Pampawa Ade' dan Parewa Sara'.
Dibidang hukum/peradilan
Dalam Lembaga Pangngadakkan/pangngaderreng yang terdiri dari Pampawa Ade' (pelaksan adat) yaitu Raja dan pembantu-pembantunya, dan Parewa Sara' (pejabat syariat) yaitu Ulama, Qadhi, Imam, dan lain-lain. Maka kita tahu bahwa Kadi (Qodhi) inilah yang menjadi hakim yang akan mengadili segala perkara dalam penerapan syariat Islam. Sekalipun fungsi Kadi (Qodhi) ini tidak hanya mengadili perkara tentang syariat Islam akan tetapi juga sebagai pejabat sara' mengatur urusan upacara-upacara keagamaan (hari besar Islam, pen.) seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra' mi'raj Nabi, Sembahyang (Shalat, pen.)Ied dan lain-lain yang diadakan diistana raja.30 Juga urusan pernikahan dan urusan kematian terutama keluarga raja.
Tentang keberadaan Kadi (Qodhi, pen.) yang sering juga di sebut KALI bisa kita jumpai setidaknya sebagai mewakili seluruh kerajan yang lain yakni Kerajaan Gowa sebagai pemimpin Kerajaan-Kerajaan lainnya, diangkat seorang Kali (Kadhi) dengan sebutan Daengta Kalia31atau Daengta Kali Gowa.35 Di Kerajaan Bone juga diangkat Kali (Kadhi) dengan sebutan Petta KaliE . Disebut Petta karena semua Kali diangkat dari kalangan bangsawan. "Petta" adalah sebutan bangsawan berarti "Tuanku". Begitu juga di Kerajaan Wajo diangkat juga Kali (Kadhi).32 Keberadaan Qodhi (Kadhi/Kali) yang sering juga disebut Daengta Kalia/Petta KaliE menunjukkan bahwa penerapan syraiat Islam sudah terlembaga dengan sitematis pada waktu itu.
Dibidang politik dan pemerintahan
Pemberian gelar "Sultan" kepada Raja
Raja Gowa XIV I Mangarangi Daeng Manrabiah yang memeluk Islam pertama kali dari raja-raja Gowa bersama pamannya I Mallingkaan Daeng manyonri' (raja Tallo) selaku Mangkubumi (kepala pemerintahan/perdana menteri) Kerajaan Gowa. Kemudian Kemudian I Mangarangi Daeng Manrabiah diberi gelar Sultan Alauddin sedangkan I Mallingkaan Daeng Manyonri diberi gelar Sultan Awwalul Islam. Menurut Andi Kumala Idjo, SH sebagai putra Mahkota kerajaan Gowa sekarang mengatakan bahwa gelar "Sultan" ini diberikan oleh Mufti Makkah.33 Sejak raja Gowa XIV itulah gelar "Sultan" diberikan kepada setiap raja Gowa berikutnya, semisal Raja Gowa XV I Mannuntugi Daeng Mattola Karaeng Lakiung, diberi gelar Sultan Malikussaid oleh Mufti Arabia.34 Begitu pula raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang diberi gelar Sultan Hasnauddin, demikian seterusnya.
Pemberian gelar "Sultan" ini oleh Mufti Makkah/Arabia, menunjukkan adanya hubungan struktural antara Kesultanan Gowa dengan Negara Khilafah Islamiah pada waktu itu. Dimana Makkah adalah bagian integral dari Kekhilafahan Islam, yakni Makkah sebagai wilayah kegubernuran (wali) dari Khilafah Islamiyah. Pada tahun 1605 saat raja Gowa XIV telah memeluk Islam, masa itu Khilafah dipimpin oleh Khalifah Ahmad I (1603-1617) dari kekhalifahan Bani Utsmaniyah.
Menerapkan syariat Islam
Setelah Islam menjadi agama resmi Kerajaan Gowa-Tallo' maka Kerajaan ini kemudian menerapkan syariat Islam melalui lembaga Parewa Sara' (Pejabat Syariat, pen.) yaitu Ulama, Qodhi (Kali/Kadi), Imam, dst. Sekalipun masih tetap ada Lembaga Pampawa Ade' (pelaksana Adat) yaitu raja dan pembatu-pembantunya, akan tetapi Syariat tetap masih mengakomodasi hukum-hukum adat yang tidak bertentangan dengan Syariat Islam. Contoh-contoh penerapannya sudah disebutkan diatas.
Kerajaan menyebarkan Islam
Penyebaran Islam dilakukan baik melalui pendekatan struktural maupun kultural. Pendekatan kultural dilakukan Kerajaan Gowa-Tallo menyebarkan Islam kepada rakyat Gowa-Tallo dan juga segera menyebarkan ke kerajaan-kerajaan lainnya. Disamping tentunya diikuti dengan pendekatan kultural yakni Kerajaan mengutus para muballigh keseluruh pelosok-pelosok daerah.
Perlu dicatat bahwa penyebaran Islam oleh Kerajaan Gowa-Tallo kepada rakyat ataupun Raja-raja memegang teguh prinsip mengajak dengan cara damai. Maka bisa kita lihat bagaimana Kerajaan Ajatappareng (Suppak, Sawitto, Rappang dan Sidenreng) memeluk Islam dengan cara damai setelah diajak oleh Gowa. Berbeda halnya ketika Kerajaan yang diajak oleh Gowa memeluk Islam, lalu menolak Islam, maka Gowa akan memeranginya, seperti yang dilakukannya terhadap Kerajaan Tellumpoccoe (Bone, Soppeng dan Wajo) sampai ditaklukkannya.
Ini menunjukkan bahwa Gowa sebagai institusi pemerintahan menyadari kewajibannya untuk menyebarkan Islam kepada siapa saja dan dimana saja, yang akhirnya bisa kita saksikan betapa keberhasilan Gowa menyebarkan Islam di Sulawesi, Nusa Tenggara, Ambon dan bahkan bagian timur Nusantara lainnya hingga Marege, Australia bagian utara. Ini dipastikan tidak akan bisa dilakukan kalau tidak didukung oleh kepemimpinan Kerajaan Gowa.
Menyebarkan Islam dengan cara damai
Prinsip damai Kerajaan Gowa dalam menyebarluaskan Islam, dapat dicermati ketika Raja Gowa XIV Sultan Alauddin bersama Mangkubumi (raja Tallo) Sultan Awwalul Islam dan pasukannya mendatangi Bone untuk mengajak memeluk Islam. Mereka tiba di Bone dan mengambil tempat di Palette. La Tenriruwa sebagai raja Bone XI adalah raja Bone yang pertama memeluk agama Islam. Setelah mengadakan pembicaraan antara raja Gowa dan Raja Bone, maka rakyat Bone dikumpul disuatu lapangan terbuka karena Raja akan menyampaikan sesuatu kepada mereka.
Maka berkatalah Raja Bone La Tenriruwa kepada rakyat banyak:
"Hai rakyat Bone, saya sampaikan padamu, bahwa kin Raja Gowa datang ke Bone menunjukkan jalan lurus bagi kita sekalian ialah agama Islam, mari kita sekalian terima baik Raja Gowa itu. Karena bagi saya sendiri sudah tidak ada kesanksian apa-apa, saya sudah yakin benar bahwa Islam inilah agama yang benar, yaitu menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mengikut Nabi Muhammad SAW."
Selanjutnya Raja Bone La Tenriruwa berkata lagi:
"Dan memang ada kata sepakat moyang kami dengan Raja Gowa yang mengatakan , bahwa barangsiapa diantara kita mendapat kebaikan, dialah menuntun didepan. Raja Gowa berkata bahwa bila agama Islam diterima oleh kita, maka Gowa dan Bone adalah dua sejoli yang paling tangguh ditengan lapangan. Bila kita terima agama Islam, maka kita tetap pada tempat kita semula. Akan tetapi bila kita diperangi dahulu dan dikalahkan, baru kita terima agama Islam, maka jelas rakyat Bone akan menjadi budak dari Gowa. Saya kemukakan keterangan ini, kata Raja Bone La Tenriruwa, bukan karena saya takut berperang lawan orang-orang Makassar. Tapi kalau semua kata-kata dan janji Raja Gowa itu diingkarinya, maka saya akan turun kegelanggan, kita akan lihat saya ataukah Raja Gowa yang mati." Demikian isi pidato Raja Bone La Tenriruwa kepada rakyat banyak.35
Kalau kita mencermati petikan pidato diatas dapat dipahami bahwa betapa Raja Gowa memiliki maksud yang baik kepada Raja Bone dan Rakyat Bone untuk hanya semata-mata agar memeluk Islam, bahkan dikatakan kepada mereka jika mau memeluk Islam maka Kerajaan Bone dan Gowa hidup sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Namun sekalipun Raja Bone La Tenriruwa sudah memeluk Islam lalu mengajak rakyatnya, maka rakyatnya pun menolak bahkan Ade' Pitue (Hadat Tujuh) memecat La Tenriruwa dari tahtanya. Dan bermufakat mengangkat La Tenripale to Akkapeang menjadi raja Bone XII (1611-1625). Maka Raja Bone XII inilah yang berperang dengan Raja Gowa, sehingga ditaklukkan oleh Gowa, kemudian mereka masuk Islam.
Oleh Abdul Razak Daeng Patunru' (1969:21) menguraikan bagaimana Gowa mengajak Kerajaan-kerajaan memeluk Islam, sebagai berikut:
"Pada hakekatnya Raja Gowa sebagai seorang Muslim dan memegang teguh prinsip agama Islam, bahwa penyebaran Islam harus dilakukan secara damai. Pada mulanya sama sekali tidak bermaksud untuk memaksa raja-raja menerima Islam, akan tetapi karena ternyata kepada baginda , bahwa selain raja-raja itu menolak seruan baginda, merekapun mengambil sikap dan tindakan yang nyata untuk menentang kekuasaan dan pengaruh Gowa yang sejak dahulu telah tertanam ditanah-tanah Bugis pada umumnya
Hubungan Kerajaan Gowa dengan Khilafah Islamiyah
Dalam hal hubungan Kerajaan Gowa dengan Khilafah Islamiyah pada waktu itu, yang dapat kita pahami adalah dalam hal pemberian gelar "Sultan" kepada Raja-raja Gowa yang diberikan oleh Mufti Makkah menurut penuturan Andi Kumala Idjo, SH sebagaimana sudah disebutkan diatas. Mirip dengan pernyataan Prof. DR. M. Ahmad Sewang, pakar Sejarah UIN Alauddin Makassar,36 bahwa memang pada masa kerajaan-kerajaan dulu telah masuk Islam, ada semacam pengakuan atau legitimasi yang harus datang dari Turki Utsmani sebagai spiritual Power (dunia Islam masa itu) kepada raja terpilih, beliau mencontohkan legitimasi Sultan Buton oleh Turki Utsmani. Sekalipun beliau mengatakan tidak sejauh itu pernah membahas masalah ini. Hanya Bapak Prof. Sewang menambahkan bahwa Turki Utsmani adalah Khalifah senbagaimana yang diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir saat ini, sekalipun dianggapnya perjuangan ini sangat berat namun beliau sangat menghargainya.
Selain itu yang dapat kita lihat adalah foto Raja Gowa yang ke-33 I Mallingkaan Daeng Nyonri Sultan Idris (1893-1895), yang terpajang di Museum Ballalompoa saat ini, menurut Andi Kumala Idjo, SH adalah pakain Turki dilihat dari baju dan songkok Turkinya, namun beliau belum mengetahui jalan ceritanya.37
Juga jangan dilupakan seorang tokoh Ulama yang sangat masyhur asal Gowa yaitu sebagaimana yang ditulis oleh Prof. Dr. H Abu Hamid dalam tulisannya yang berjudul Syekh Yusuf Al Makassari, seorang pejuang yang mengharumkan nama Makassar. Disebutkan bahwa tokoh Syekh Yusuf lahir dalam lingkup Kerajaan Gowa Sulawesi Selatan pada tahu 1626. Ayahnya adalah Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin (1593-1639) dan ibunya St. Aminah (bukan permaisuri).38
Syekh Yusuf sejak kecil dipersiapkan oleh ayahnya untuk menjadi Muballigh, beliau belajar ilmu agama Islam dari Sayed Ba'Alwi bin Abdullah Tahir di Bontoala, Makassar, ketika itu menjadi pusat pengajaran Islam. Dalam usia 18 tahun beliau ke Banten, kemudian ke Aceh untuk memperdalam ilmu agamnya selama lima tahun. Tujuan utama memang ke tanah Hijaz (Timur Tengah) untuk mencari ilmu hakikat Islam. Maka tahun 1649 beliau berangkat ketanah Hijaz (Yaman, Mekah dan Madinah) dan Damaskus.
Tahun 1664,39 Syekh Yusuf kembali ke Hindia atas undangan Sultan Banten Tirtayasa. Beliau sebagai ulama dan pejuang yang gagah berni melawan imperialisme Belanda di Banten. Yang pada Akhirnya beliau ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Afrika Selatan. Di Afrika pun beliau berdakwah menyebarkan Islam.
Syekh Yusuf Al Makassari inilah yang kita tahu memiliki hubungan sampai ke negeri Khilafah Islamiyah pada Waktu itu.
Dewasa ini kita juga sangat membutuhkan ulama dan pejuang seperti Syekh Yusuff Al Makassari, yang berani terjun kemedan laga menghadapi musuh (imperialisme). Musuh kita saat ini adalah Ideolgi Kapitalisme sekuler, demokrasi, pluralisme, HAM yang selama ini telah menjauhkan Ideologi Islam dalam penataan sistem kehidupan umat islam. Kini kita juga butuh para pemimpin seperti Sultan Alauddin, Sultan Malikussaid dan Sultan Hasanuddin yang begitu gagah berani dan tidak takut pada musuh, lalu mengusir para penjajah, melindungi umat Islam dan berjuang untuk Islam. Semoga umat islam kembali dapat mewujudkan kehidupan Islam dibawah naungan syariah dan khilafah. Wallahu a'lam.
Catatan kaki :
1. Alhadits
2, 3, 5, 7, 9, 11 dan 13. Prof. Mr. DR. Andi Zainal Abidin, Sejarah Sulawesi Selatan (hal:228-231), Hasanuddin University Press, 1999.
4 dan 6. Prof. DR. H. Ahmad Sewang. M.A., Makalah "Empat Abad Islam di Sulawesi Selatan" , Seminar Internasional dan Festival Kebudayaan, Pusat Kajian Islam (Centre For Middle Eastern Studies) Devisi Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora PKP Unhas dan Pemkot Makassar, 5-7 September 20007.
8. Andi Kumala Idjo, SH. "Wawancara", LF HTI Gowa, Desember 2007
10, 12, dan 14-20. H.A. Massiara Dg. Rapi, Menyingkap Tabir Sejarah dan Budaya di Sulawesi Selatan (hal. 55-62), Lembaga Penelitian dan Pelestarian Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan TOMANURUNG, 1988.
21-24 dan 26-27.DR. Nurhayati Rahman, M.UmH, Makalah "Syariat Islam dan Sitem Pangngaderreng", Seminar Internasional dan Festival Kebudayaan, Pusat Kajian Islam (Centre For Middle Eastern Studies) Devisi Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora PKP Unhas dan Pemkot Makassar, 5-8 September 2007.
25, 28, 33 dan 37. Andi Kumala Idjo, SH. "Wawancara", LF HTI Gowa, Desember 2007
29-32, 34 dan 35. H.A. Massiara Dg. Rapi, Menyingkap Tabir Sejarah dan Budaya di Sulawesi Selatan (hal. 63-91), Lembaga Penelitian dan Pelestarian Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan TOMANURUNG, 1988.
36. Prof. Dr. Ahmad Sewang, MA, "Wawancara", LF HTI Gowa, Desember 2007
38-39. Humas Pemkot Makassar, "Menguak Kebesaran Sejarah Makassar" Agustus 2007
Ada beberapa conntoh penerapan syariat Islam dalam undang-undang Pangngadakkan/Pangngaderreng dapat dilihat diantarnya :
Perzinahan
Pada wanita atau pria yang berzina setelah menikah, dimana didalam Islam dirajam yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk dicemplungkan hidup-hidup kedasar laut.24 Jika yang bezinah adalah pria atau wanita lajang maka dihukum cambuk.25
Kawin Lari (silariang (Makassar))
Apabila sepasang muda-mudi kawin lari (silariang) atau kabur, bila tiba dirumah Imam (Abballa' imang/mabbola imang) ia akan dilindungi dari kejaran to masiri'na (mahram) demi menghargai otonomi imam yang akan menikahkan mereka menurut syariat Islam. Bila ditemukan diluar rumah Imam, to masiri'na berhak menghukumnya sesuai ketentuan adat karena berada dibawa wilayah otonomi adat.26
Wanita dalam menerima tamu, safar dan berpakain.
Para penjaga wanita Bugis-Makassar, istilah mahram diterjemahkan to masiri'na27 (diadopsi dari budaya siri') yang berfungsi menjaga dan melindungi nama dan harkat perempuan. Itulah sebabnya jika tidak ada to masiri'na didalam rumah, wanita dilarang menerima tamu laki-laki. Begitu pula bila bepergian, dia harus dikawal oleh to masiri'na (mahram) dan juga selalu menggunakan dua sarung, satu diikat dipinggang (appalikang (makassar)) dan satunya lagi dipakai menutup kepala (berkerudung) atau "abbongong (makassar)". Begitu juga dalam pakain adat Gowa, sebelum Islam, sudah dikenal pakain Baju Bodo (baju yang lengannya pendek), lalu setelah Islam menjadi agama Kerajaan Gowa, maka baju Bodo diganti menjadi Baju Labbu seperti dituturkan oleh Andi Kumala Idjo, SH selaku putra mahkota pewaris tahta kerajaan Gowa sekarang ini menggantikan Raja Gowa ke-36 Andi Idjo Daeng mattawang Karaeng Lalolang (1946-1960).28
Berbagai penerapan syariat yang lain
Di Kerajaan Wajo misalnya setelah Arung Matowa (Raja) Wajo ke-XII yang bernama La Sangkuru' Mulajaji memeluk Islam tahun 1610, maka raja Gowa mengirim ulama Minangkabau Sulaiman Khatib Sulung yang sudah kembali dari Luwu'. Khatib Sulung mengajarkan tentang keimanan kepada Allah dan segala larangan-larangannya, seperti:29
a. dilarang mappinang rakka' (memberi sesajen kepada apa saja)
b. dilarang mammanu-manu' (bertenung tentang alamat baik-buruk melakukan suatu pekerjaan)
c. dilarang mappolo-bea (bertenung melihat nasib)
d. dilarang boto' (berjudi)
e. dilarang makan riba (bunga piutang)
f. dilarang mappangaddi (berzinah)
g. dilarang minum pakkunesse' (minuman keras)
h. dilarang makan cammugu-mugu (babi)
i. dilarang mappakkere' (mempercayai benda keramat)
Setelah ketentuan-ketentuan ditetapkan maka Arung Matowa Wajo mempercayakan pengurusan dan penyusunan aparat sara' (pejabat syariat, pen.) kepada Sulaiman Khatib Sulung. Sebagaimana sudah kita sebutkan sebelumnya bahwa Parewa Sara' inilah yang mendampingi raja dalam menjalankan syariat Islam. Maka sudah barang tentu bahwa apabila terjadi pelanggaran terhadap larangan-larangan yang telah ditetapkan diatas, pasti pelakunya akan dijatuhi hukuman/sanksi sesuai syariat Islam. Dan tentu hal serupa terjadi pada seluruh Kerajaan dibawa kekuasaan gowa ini, karena bisa kita lihat bahwa secara umum berlaku sistem Pangngadakkan/Pangngaderreng selalu terdiri dari Pampawa Ade' dan Parewa Sara'.
Dibidang hukum/peradilan
Dalam Lembaga Pangngadakkan/pangngaderreng yang terdiri dari Pampawa Ade' (pelaksan adat) yaitu Raja dan pembantu-pembantunya, dan Parewa Sara' (pejabat syariat) yaitu Ulama, Qadhi, Imam, dan lain-lain. Maka kita tahu bahwa Kadi (Qodhi) inilah yang menjadi hakim yang akan mengadili segala perkara dalam penerapan syariat Islam. Sekalipun fungsi Kadi (Qodhi) ini tidak hanya mengadili perkara tentang syariat Islam akan tetapi juga sebagai pejabat sara' mengatur urusan upacara-upacara keagamaan (hari besar Islam, pen.) seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra' mi'raj Nabi, Sembahyang (Shalat, pen.)Ied dan lain-lain yang diadakan diistana raja.30 Juga urusan pernikahan dan urusan kematian terutama keluarga raja.
Tentang keberadaan Kadi (Qodhi, pen.) yang sering juga di sebut KALI bisa kita jumpai setidaknya sebagai mewakili seluruh kerajan yang lain yakni Kerajaan Gowa sebagai pemimpin Kerajaan-Kerajaan lainnya, diangkat seorang Kali (Kadhi) dengan sebutan Daengta Kalia31atau Daengta Kali Gowa.35 Di Kerajaan Bone juga diangkat Kali (Kadhi) dengan sebutan Petta KaliE . Disebut Petta karena semua Kali diangkat dari kalangan bangsawan. "Petta" adalah sebutan bangsawan berarti "Tuanku". Begitu juga di Kerajaan Wajo diangkat juga Kali (Kadhi).32 Keberadaan Qodhi (Kadhi/Kali) yang sering juga disebut Daengta Kalia/Petta KaliE menunjukkan bahwa penerapan syraiat Islam sudah terlembaga dengan sitematis pada waktu itu.
Dibidang politik dan pemerintahan
Pemberian gelar "Sultan" kepada Raja
Raja Gowa XIV I Mangarangi Daeng Manrabiah yang memeluk Islam pertama kali dari raja-raja Gowa bersama pamannya I Mallingkaan Daeng manyonri' (raja Tallo) selaku Mangkubumi (kepala pemerintahan/perdana menteri) Kerajaan Gowa. Kemudian Kemudian I Mangarangi Daeng Manrabiah diberi gelar Sultan Alauddin sedangkan I Mallingkaan Daeng Manyonri diberi gelar Sultan Awwalul Islam. Menurut Andi Kumala Idjo, SH sebagai putra Mahkota kerajaan Gowa sekarang mengatakan bahwa gelar "Sultan" ini diberikan oleh Mufti Makkah.33 Sejak raja Gowa XIV itulah gelar "Sultan" diberikan kepada setiap raja Gowa berikutnya, semisal Raja Gowa XV I Mannuntugi Daeng Mattola Karaeng Lakiung, diberi gelar Sultan Malikussaid oleh Mufti Arabia.34 Begitu pula raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang diberi gelar Sultan Hasnauddin, demikian seterusnya.
Pemberian gelar "Sultan" ini oleh Mufti Makkah/Arabia, menunjukkan adanya hubungan struktural antara Kesultanan Gowa dengan Negara Khilafah Islamiah pada waktu itu. Dimana Makkah adalah bagian integral dari Kekhilafahan Islam, yakni Makkah sebagai wilayah kegubernuran (wali) dari Khilafah Islamiyah. Pada tahun 1605 saat raja Gowa XIV telah memeluk Islam, masa itu Khilafah dipimpin oleh Khalifah Ahmad I (1603-1617) dari kekhalifahan Bani Utsmaniyah.
Menerapkan syariat Islam
Setelah Islam menjadi agama resmi Kerajaan Gowa-Tallo' maka Kerajaan ini kemudian menerapkan syariat Islam melalui lembaga Parewa Sara' (Pejabat Syariat, pen.) yaitu Ulama, Qodhi (Kali/Kadi), Imam, dst. Sekalipun masih tetap ada Lembaga Pampawa Ade' (pelaksana Adat) yaitu raja dan pembatu-pembantunya, akan tetapi Syariat tetap masih mengakomodasi hukum-hukum adat yang tidak bertentangan dengan Syariat Islam. Contoh-contoh penerapannya sudah disebutkan diatas.
Kerajaan menyebarkan Islam
Penyebaran Islam dilakukan baik melalui pendekatan struktural maupun kultural. Pendekatan kultural dilakukan Kerajaan Gowa-Tallo menyebarkan Islam kepada rakyat Gowa-Tallo dan juga segera menyebarkan ke kerajaan-kerajaan lainnya. Disamping tentunya diikuti dengan pendekatan kultural yakni Kerajaan mengutus para muballigh keseluruh pelosok-pelosok daerah.
Perlu dicatat bahwa penyebaran Islam oleh Kerajaan Gowa-Tallo kepada rakyat ataupun Raja-raja memegang teguh prinsip mengajak dengan cara damai. Maka bisa kita lihat bagaimana Kerajaan Ajatappareng (Suppak, Sawitto, Rappang dan Sidenreng) memeluk Islam dengan cara damai setelah diajak oleh Gowa. Berbeda halnya ketika Kerajaan yang diajak oleh Gowa memeluk Islam, lalu menolak Islam, maka Gowa akan memeranginya, seperti yang dilakukannya terhadap Kerajaan Tellumpoccoe (Bone, Soppeng dan Wajo) sampai ditaklukkannya.
Ini menunjukkan bahwa Gowa sebagai institusi pemerintahan menyadari kewajibannya untuk menyebarkan Islam kepada siapa saja dan dimana saja, yang akhirnya bisa kita saksikan betapa keberhasilan Gowa menyebarkan Islam di Sulawesi, Nusa Tenggara, Ambon dan bahkan bagian timur Nusantara lainnya hingga Marege, Australia bagian utara. Ini dipastikan tidak akan bisa dilakukan kalau tidak didukung oleh kepemimpinan Kerajaan Gowa.
Menyebarkan Islam dengan cara damai
Prinsip damai Kerajaan Gowa dalam menyebarluaskan Islam, dapat dicermati ketika Raja Gowa XIV Sultan Alauddin bersama Mangkubumi (raja Tallo) Sultan Awwalul Islam dan pasukannya mendatangi Bone untuk mengajak memeluk Islam. Mereka tiba di Bone dan mengambil tempat di Palette. La Tenriruwa sebagai raja Bone XI adalah raja Bone yang pertama memeluk agama Islam. Setelah mengadakan pembicaraan antara raja Gowa dan Raja Bone, maka rakyat Bone dikumpul disuatu lapangan terbuka karena Raja akan menyampaikan sesuatu kepada mereka.
Maka berkatalah Raja Bone La Tenriruwa kepada rakyat banyak:
"Hai rakyat Bone, saya sampaikan padamu, bahwa kin Raja Gowa datang ke Bone menunjukkan jalan lurus bagi kita sekalian ialah agama Islam, mari kita sekalian terima baik Raja Gowa itu. Karena bagi saya sendiri sudah tidak ada kesanksian apa-apa, saya sudah yakin benar bahwa Islam inilah agama yang benar, yaitu menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mengikut Nabi Muhammad SAW."
Selanjutnya Raja Bone La Tenriruwa berkata lagi:
"Dan memang ada kata sepakat moyang kami dengan Raja Gowa yang mengatakan , bahwa barangsiapa diantara kita mendapat kebaikan, dialah menuntun didepan. Raja Gowa berkata bahwa bila agama Islam diterima oleh kita, maka Gowa dan Bone adalah dua sejoli yang paling tangguh ditengan lapangan. Bila kita terima agama Islam, maka kita tetap pada tempat kita semula. Akan tetapi bila kita diperangi dahulu dan dikalahkan, baru kita terima agama Islam, maka jelas rakyat Bone akan menjadi budak dari Gowa. Saya kemukakan keterangan ini, kata Raja Bone La Tenriruwa, bukan karena saya takut berperang lawan orang-orang Makassar. Tapi kalau semua kata-kata dan janji Raja Gowa itu diingkarinya, maka saya akan turun kegelanggan, kita akan lihat saya ataukah Raja Gowa yang mati." Demikian isi pidato Raja Bone La Tenriruwa kepada rakyat banyak.35
Kalau kita mencermati petikan pidato diatas dapat dipahami bahwa betapa Raja Gowa memiliki maksud yang baik kepada Raja Bone dan Rakyat Bone untuk hanya semata-mata agar memeluk Islam, bahkan dikatakan kepada mereka jika mau memeluk Islam maka Kerajaan Bone dan Gowa hidup sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Namun sekalipun Raja Bone La Tenriruwa sudah memeluk Islam lalu mengajak rakyatnya, maka rakyatnya pun menolak bahkan Ade' Pitue (Hadat Tujuh) memecat La Tenriruwa dari tahtanya. Dan bermufakat mengangkat La Tenripale to Akkapeang menjadi raja Bone XII (1611-1625). Maka Raja Bone XII inilah yang berperang dengan Raja Gowa, sehingga ditaklukkan oleh Gowa, kemudian mereka masuk Islam.
Oleh Abdul Razak Daeng Patunru' (1969:21) menguraikan bagaimana Gowa mengajak Kerajaan-kerajaan memeluk Islam, sebagai berikut:
"Pada hakekatnya Raja Gowa sebagai seorang Muslim dan memegang teguh prinsip agama Islam, bahwa penyebaran Islam harus dilakukan secara damai. Pada mulanya sama sekali tidak bermaksud untuk memaksa raja-raja menerima Islam, akan tetapi karena ternyata kepada baginda , bahwa selain raja-raja itu menolak seruan baginda, merekapun mengambil sikap dan tindakan yang nyata untuk menentang kekuasaan dan pengaruh Gowa yang sejak dahulu telah tertanam ditanah-tanah Bugis pada umumnya
Hubungan Kerajaan Gowa dengan Khilafah Islamiyah
Dalam hal hubungan Kerajaan Gowa dengan Khilafah Islamiyah pada waktu itu, yang dapat kita pahami adalah dalam hal pemberian gelar "Sultan" kepada Raja-raja Gowa yang diberikan oleh Mufti Makkah menurut penuturan Andi Kumala Idjo, SH sebagaimana sudah disebutkan diatas. Mirip dengan pernyataan Prof. DR. M. Ahmad Sewang, pakar Sejarah UIN Alauddin Makassar,36 bahwa memang pada masa kerajaan-kerajaan dulu telah masuk Islam, ada semacam pengakuan atau legitimasi yang harus datang dari Turki Utsmani sebagai spiritual Power (dunia Islam masa itu) kepada raja terpilih, beliau mencontohkan legitimasi Sultan Buton oleh Turki Utsmani. Sekalipun beliau mengatakan tidak sejauh itu pernah membahas masalah ini. Hanya Bapak Prof. Sewang menambahkan bahwa Turki Utsmani adalah Khalifah senbagaimana yang diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir saat ini, sekalipun dianggapnya perjuangan ini sangat berat namun beliau sangat menghargainya.
Selain itu yang dapat kita lihat adalah foto Raja Gowa yang ke-33 I Mallingkaan Daeng Nyonri Sultan Idris (1893-1895), yang terpajang di Museum Ballalompoa saat ini, menurut Andi Kumala Idjo, SH adalah pakain Turki dilihat dari baju dan songkok Turkinya, namun beliau belum mengetahui jalan ceritanya.37
Juga jangan dilupakan seorang tokoh Ulama yang sangat masyhur asal Gowa yaitu sebagaimana yang ditulis oleh Prof. Dr. H Abu Hamid dalam tulisannya yang berjudul Syekh Yusuf Al Makassari, seorang pejuang yang mengharumkan nama Makassar. Disebutkan bahwa tokoh Syekh Yusuf lahir dalam lingkup Kerajaan Gowa Sulawesi Selatan pada tahu 1626. Ayahnya adalah Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin (1593-1639) dan ibunya St. Aminah (bukan permaisuri).38
Syekh Yusuf sejak kecil dipersiapkan oleh ayahnya untuk menjadi Muballigh, beliau belajar ilmu agama Islam dari Sayed Ba'Alwi bin Abdullah Tahir di Bontoala, Makassar, ketika itu menjadi pusat pengajaran Islam. Dalam usia 18 tahun beliau ke Banten, kemudian ke Aceh untuk memperdalam ilmu agamnya selama lima tahun. Tujuan utama memang ke tanah Hijaz (Timur Tengah) untuk mencari ilmu hakikat Islam. Maka tahun 1649 beliau berangkat ketanah Hijaz (Yaman, Mekah dan Madinah) dan Damaskus.
Tahun 1664,39 Syekh Yusuf kembali ke Hindia atas undangan Sultan Banten Tirtayasa. Beliau sebagai ulama dan pejuang yang gagah berni melawan imperialisme Belanda di Banten. Yang pada Akhirnya beliau ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Afrika Selatan. Di Afrika pun beliau berdakwah menyebarkan Islam.
Syekh Yusuf Al Makassari inilah yang kita tahu memiliki hubungan sampai ke negeri Khilafah Islamiyah pada Waktu itu.
Dewasa ini kita juga sangat membutuhkan ulama dan pejuang seperti Syekh Yusuff Al Makassari, yang berani terjun kemedan laga menghadapi musuh (imperialisme). Musuh kita saat ini adalah Ideolgi Kapitalisme sekuler, demokrasi, pluralisme, HAM yang selama ini telah menjauhkan Ideologi Islam dalam penataan sistem kehidupan umat islam. Kini kita juga butuh para pemimpin seperti Sultan Alauddin, Sultan Malikussaid dan Sultan Hasanuddin yang begitu gagah berani dan tidak takut pada musuh, lalu mengusir para penjajah, melindungi umat Islam dan berjuang untuk Islam. Semoga umat islam kembali dapat mewujudkan kehidupan Islam dibawah naungan syariah dan khilafah. Wallahu a'lam.
Catatan kaki :
1. Alhadits
2, 3, 5, 7, 9, 11 dan 13. Prof. Mr. DR. Andi Zainal Abidin, Sejarah Sulawesi Selatan (hal:228-231), Hasanuddin University Press, 1999.
4 dan 6. Prof. DR. H. Ahmad Sewang. M.A., Makalah "Empat Abad Islam di Sulawesi Selatan" , Seminar Internasional dan Festival Kebudayaan, Pusat Kajian Islam (Centre For Middle Eastern Studies) Devisi Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora PKP Unhas dan Pemkot Makassar, 5-7 September 20007.
8. Andi Kumala Idjo, SH. "Wawancara", LF HTI Gowa, Desember 2007
10, 12, dan 14-20. H.A. Massiara Dg. Rapi, Menyingkap Tabir Sejarah dan Budaya di Sulawesi Selatan (hal. 55-62), Lembaga Penelitian dan Pelestarian Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan TOMANURUNG, 1988.
21-24 dan 26-27.DR. Nurhayati Rahman, M.UmH, Makalah "Syariat Islam dan Sitem Pangngaderreng", Seminar Internasional dan Festival Kebudayaan, Pusat Kajian Islam (Centre For Middle Eastern Studies) Devisi Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora PKP Unhas dan Pemkot Makassar, 5-8 September 2007.
25, 28, 33 dan 37. Andi Kumala Idjo, SH. "Wawancara", LF HTI Gowa, Desember 2007
29-32, 34 dan 35. H.A. Massiara Dg. Rapi, Menyingkap Tabir Sejarah dan Budaya di Sulawesi Selatan (hal. 63-91), Lembaga Penelitian dan Pelestarian Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan TOMANURUNG, 1988.
36. Prof. Dr. Ahmad Sewang, MA, "Wawancara", LF HTI Gowa, Desember 2007
38-39. Humas Pemkot Makassar, "Menguak Kebesaran Sejarah Makassar" Agustus 2007
Label:
ISLAM,
JEJAK MAKASSAR
Kamis, 29 Agustus 2013
ROYONG, Musik Vokal Purba dari Negeri Makassar
Asal usul royong dapat ditelusuri melalui sejarah kuno
yang digali dari mitos asal usul raja-raja yang memerintah di Sulawesi Selatan. Menurut
Prof. Dr. H.A Kadir Manyambeang, dalam Solihing (2004: xiii), setelah periode
Galigo, selama pitu pariameng (tujuh masa) aleq lino (pertiwi) mengalami
kekosongan pemerintahan yang berakibat timbulnya pertikaian antar kelompok masyarakat yang disebut dengan sianre bale (chaos) dan sangat sulit
diatasi oleh para pemimpin kaum. Kemudian dari peristiwa ini muncul Tomanurung (orang
yang turun dari langit). Hampir setiap daerah di Sulawesi Selatan memiliki
cerita tentang Tomanurung, tak terkecuali Gowa.
Tomanurung di Gowa bernama Putri Tamalate, seorang perempuan yang turun dari langit beserta dua dayang-dayang, lengkap dengan gaukang. Dayangdayang inilah yang menyanyikan royong seiring dengan turunnya
Putri Tamalate ke peretiwi (dunia). Nyanyian royong ini,
didengar oleh penduduk Gallarang Mangasa, yang kemudian melaporkannya kepada para pemimpin kaum (Batesalapang dan Paccallayya). Batesalapang dan Paccallayya kemudian pergi menemui Tomanurung. Selanjutnya Tomanurung kawin
dengan Karaeng Bayo (raja Gowa pertama). Dalam perkawinan tersebut, royong kembali dinyanyikan oleh kedua dayang-dayang Putri Tamalate. Lalu ketika anak pasangan Karaeng Bayo dengan Putri Tamalate, yang bernama Karaeng
Tumasalangga Baraya lahir, royong kembali
dinyanyikan oleh dayang-dayang. Setelah itu dayang-dayang pun menghilang. Berdasarkan hal tersebut, disimpulkan bahwa royong berasal dari langit dan turun ke
bumi bersama dengan datangnya Tomanurung di Gowa. Tradisi ini kemudian
dilakukan dalam setiap upacara adat atau ritus orang Makassar, terutama dalam siklus kehidupan manusia. Johra Daeng Pajja (Solihing,2004:68) mengungkapkan asal-usul royong berdasarkan informasi dari neneknya :
“…royong itu bersamaan hadirnya Tumanurunga di Gowa. Sebab
sewaktu
anaknya sakit ia menangis terus menerus, setelah nyanyian syair royong
ditembangkan, maka ia berhenti menangis, seketika itu pula penyakitnya
sembuh.”
Dari cerita yang diperoleh dari Johra Daeng Pajja tersebut, kemudian masyarakat Makassar meyakini kalau senandung royong mempunyai
kekuatan untuk menyembuhkan. Pengalaman-pengalaman tersebut lalu diturunkan ke generasi berikutnya.
Royong dalam Masyarakat
Makassar
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pementasan royong biasanya dilakukan dalam upacara-upacara adat dan upacara daur hidup (life cycle
rites). Ada beberapa upacara di mana royong biasanya ditampilkan.
Namun berikut ini hanya akan dipaparkan upacara A’ccera Kalompoang dan acara
perkawinan Makassar, di mana terdapat tahapan yang di dalamnya royong ditampilkan,
yaitu;
Upacara A’ccera Kalompoang
Upacara A’ccera Kalompoang adalah upacara ritual dalam
lingkungan kerajaan Gowa yang bertujuan mencuci benda-benda pusaka kerajaan. Biasanya dilaksanakan pada bulan Zulhajji, bertepatan dengan hari raya Idul Adha.
Upacara ini terdiri dari beberapa rangkaian yaitu, antara lain Alleka’
Je'ne’, Ammolong Tedong, Appidalleki dan Alangiri Kalompoang. Seperti yang diungkapkan
oleh Andi Maknum Bau Ta’yang, seorang bangsawan Gowa yang juga menjabat sebagai kepala museum Balla Lompoa;
…ambil air (Alleka’ Je'ne’),
dia (pa’royong) ikut sambil
menyanyi...itu
hari pertama, setelah ambil air, disembelimi tuh kerbau (Ammolong Tedong), dia
ikut royong juga,… kemudian pa’royong kembali naik menyanyi toh di Balla
Lompoa, ma’royong…nanti malamnya acara inti yaitu Appidalleki…menyanyimenyanyi
mi itu pa’royong…sampai selesai. Begitu selesai makanmi
bersama…Ada juga barsanjinya…besok na Alangiri Kalompoang…
Rangkaian pertama adalah upacara Alleka’ Je’ne pengertiannya menjemput, mengambil dan mengantar air bertuah yang akan digunakan dalam pencucian benda-benda pusaka. Pengambilan air bertuah ini diiringi tunrung pakballe dan royong. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat matahari
sekitar sitonrang bulo (setinggi bambu). Kegiatan diawali dengan doa kepada
Yang Maha Kuasa dan bersalawat kepada Rasulullah.
Rangkaian selanjutnya adalah Ammolongan Tedong yaitu
penyembelihan hewan kurban, yang bermakna penangkal dan penolak bala. Dilaksanakan pada saat allabbang lino (matahari sedang pada titik
kulminasi). Kegiatan ini diawali dengan appasili tedong dan apparurui, perlakuan
khusus dengan mengarak hewan kurban mengitari istana sebanyak tiga kali sebelum disembelih.
Penyembelihan ini bermakna sebagai penangkal dan penolak bala yang berkait dengan darah.
Prosesi ini juga diiringi dengan tunrung pakballe dan royong. Pada malam harinya (9 Zulhijjah), setelah shalat Isya, diadakanlah upacara Appidalleki, yang berarti persembahan sesajen kepada leluhur yang
diantar dengan doa syukur kehadirat Allah SWT. Upacara ini khusus dihadiri oleh kalangan keluarga Raja.Rangkaian ini diiringi oleh Royong. Setelah
prosesi selesai dilanjutkan dengan makan bersama. Keesokan harinya (10 Zulhijjah), setelah shalat Idul Adha, dilaksanakanlah assosoro dan annimbang kalompoang.
Kegiatan ini ditandai dengan pembersihan dan pencucian benda-benda pusaka kerajaan. Kemudian menimbang bobot benda-benda tersebut. Assosoro artinya
meluluhkan segala noda dan noktah, dalam hal ini sifat-sifat buruk manusia, sedangkan allangiri artinya menanamkan keyakinan dan kesucian. Annimbang pertanda
analisa dan evaluasi serta penentuan tingkat kesejahteraan masyarakat pada tahun mendatang.
Upacara Perkawinan
(upacara daur hidup masyarakat Makassar), dalam perkawinan, terdapat beberapa rangkaian, di mana
pementasan royong dilakukan. Di mulai saat Passili, untuk memohon kepada
yang kuasa agar dijauhkan dari marabahaya. Lalu kemudian dilanjutkan dengan A’bubbu. Sambil
memotong beberapa helai rambut halus yang ada pada ubun-ubun, diiringi
dengan bunyi-bunyi tradisi (royong). Selanjutnya korontigi, prosesi
menyucikan diri semalam sebelum akad nikah keesokan harinya. Korontigi dimeriahkan
oleh royong beserta tunrung pakballe, adakalahnya dipadukan dengan
barsanji/rateq.
Pementasan Royong
Sebagai sebuah tradisi yang hadir dalam upacara-upacara ritual, pementasan royong penuh dengan kesakralan. Berbagai aturan
harus dipatuhi dalam pementasannya, dari tahap persiapan, tempat dan waktu pementasan. Pementasan royong akan terlaksana dengan baik bila
aturan-aturan dijalankan. Apabila pelaksanaan royong tidak sejalan dengan adat
kebiasaan, misalnya sesajen yang tidak lengkap, biasanya salah satu dari keluarga yang
menggelar hajatan akan kesurupan. Sebagaimana yang dituturkan, keluarga Kartini Dg Rannu, ketika seorang anaknya kawin. Kartini Dg Rannu sempat mengalami kesurupan;
…mengamuk-mengamuk ki, karena jajakkangnya (sesajennya) tidak
lengkap…itu eeehh..kaddo minya’nya,…waktu cuci beras tidak ada
bunyibunyian,
tidak dipukul genrang dan royongnya. Mestinya saat dicuci itu beras
ada bunyi-bunyian genrang, ana baccing, kancing, atau parappasa. Makanya
ada
kejadian….
Sama halnya yang disampaikan oleh Mulang Dg Memang,” punna tena di royongi anjo bunting ia saba salah serre pamamanakanna agga pai garring tunnabanabu”, jika tidak ada pementasan royong pada acara perkawinan,
maka salah seorang anggota keluarga mempelai akan sakit. Dia akan kesurupan dan merasa keberatan.
Pada acara perkawinan royong disajikan sebagai musik vokal
dengan syarat dan aturan tersendiri. Adapun sarana penyajian yang harus
diperhatikan meliputi tempat, waktu, pemain dan kostum. Tempat pertunjukan royong selalu berada di dua tempat, yaitu ri kale balla (ruang tengah
rumah) dan ri bilik bungtinga (dalam kamar pengantin khusus pada upacara adat perkawinan). Biasanya tempat vokalis royong bersama dengan musik
pengiring ansambel ganrang pakballe (gendang pengobatan). Jika yang melakukan
hajatan adalah kalangan bangsawan, maka dibuatkan tempat khusus untuk pertunjukan royong yang disebut baruga caddi (panggung kecil).
Perlengkapan Royong
Perlengkapan royong meliputi bahan dan peralatan dalam
prosesi pementasannya. Bahan yang dimaksud adalah bahan-bahan jajakang,
yang terdiri dari;
a) Leko Sikabba (daun sirih satu ikat, beserta kapur) dan Rappo
Sikabba
(buah pinang satu ikat). Daun sirih dengan pinang seikat memiliki makna a’lekoki na’nikillaeki rappo yang mengandung arti
bahwa jika pohon itu berdaun, diupayakan untuk berbuah. Jika melakukan hajatan, maka pelaksana hajatan mengharapkan apa yang dicitacitakan dapat terwujud.
b) Tai Bani atau lilin merah dua buah, dimaknai sebagai
penerang, baik untuk pelaksana hajatan maupun pelaksana ritual (pa’royong).
c) Uang sesuai dengan keikhlasan pelaksana hajatan. Uang ini sebagai simbolisasi pappakalabbiri yang berarti pemberian
penghargaan kepada pelaku ritual atas pekerjaannya.
d) Air bening 1 gelas
e) Pa’dupang (tempat kayu bara untuk membakar kemenyan)
f) Kemenyan
g) Berasa si gantang (beras 4 liter)
h) Gula merah, dan kelapa masing-masing 1 buah
i) Kain putih, sebagai pembungkus peralatan ritual, merupakan simbol bahwa suatu upacara dimulai dengan kesucian (putih), agar apa yang diinginkan dapat tercapai dengan baik, dan agar upacara berlangsung dengan baik
j) Tembakau (rokok)
Adapun peralatan royong sebagai instrumen pengiring royong berupa
alat bunyi-bunyian. Pengiring royong dikategorikan
sebagai ansambel musik, karena merupakan gabungan dari beberapa instrumen, yang terdiri dari, instrumen
dari (a). tunrung pakballe dan (b) instrumen yang dimainkan
sendiri oleh pa’royong;
a) Instrumen Tunrung Pakballe terdiri dari ganrang (gendang), puik-puik (serompet), dengkang (gong), dan katto-katto (kentongan).
b) Intsrumen yang dimainkan oleh Pa’royong terdiri dari anak
baccing (berbentuk sudek yang saling dipukulkan), kancing (berbentuk kecer yang saling dipukulkan), parappasa/bulo sia-sia (terbuat dari
bambu, kedua ujungnya dibentuk seperti sapu lidi, panjangnya kurang lebih 30 cm), sinto (terbuat dari daun lontar, kedua ujungnya diikat), pakkappe
sumange’ (terbuat dari daun lontar), paku-paku pakballe (bentuknya
menyerupai parang, pada ujungnya tergantung rantai besi pendek), ju’ju/me’long atau sumbu (benang yang dipilin dan pada ujungnya ada anyaman daun lontar berbentuk segi delapan yang menunjukkan delapan penjuru mata angin).
Tahap Persiapan
Seorang pa’royong tidak akan sembarang menerima permintaan
untuk maroyong pada suatu hajatan(gaukang). Pa’royong yang
diundang (nibuntuli) akan melakukan penilaian kepantasan kepada orang yang memanggilnya. Biasanya penilaian berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya. Penilaian ini dilakukannya karena jika ia melakukan kesalahan maka dia bisa jatuh sakit.
Pelaksanaan royong disesuaikan dengan waktu-waktu tertentu
yang disebut dengan Appiwattu. Seperti dalam tahapan
perkawinan, appassili dan abbubuk, prosesinya dilakukan pada pagi hari (paribbasa), sekitar pukul
09.00. Hal ini mengandung harapan agar kedua mempelai memperoleh kebahagian dan rezeki senantiasa bertambah ketika mereka menempuh hidup baru Sebelum pelantunan royong, baik pa’royong maupun
pemain tunrung
pakballe melakukan persiapan, dengan ritualnya masing-masing. Prosesi pertama adalah apparuru yang merupakan ritual berupa pengasapan
peralatan yang akan digunakan, baik peralatan royong maupun tunrung
pakballe. Tujuannya agar jalannya upacara tidak terganggu dan berjalan dengan baik. Kemudian
dilanjutkan dengan pembacaan mantra, yang disebut dengan apparenta gandrang.
Prosesi ini untuk menyampaikan kepada Yang Maha Kuasa dan kepada para arwah leluhur bahwa upacara akan segera dimulai. Para pemain memohon perlindunganNya selama pelaksanaan upacara. Dalam prosesi ini juga harus disertai dengan jajakang.
Pementasan
Setelah prosesi apparuru, maka pementasan dapat segera
dilaksanakan. Dahulu pemain royong berjumlah 3-7 orang, yang masing-masing memegang satu instrumen atau peralatan royong, namun yang menyanyi atau
melantunkan royong hanya dua orang. Sekarang jumlah pa’royong sudah
berkurang, hanya 2-3 pa’royong yang bisa dihadirkan dalam suatu upacara.
Pertama-tama, paroyong membunyikan ana baccing. sebagaimana
yang disebutkan oleh Dg. Nurung…anne dikana ana baccing…anne ngerangi royong…ana baccing…pamulai royong..tenna assambarang ri kelongang…(ini namanya ana backing, yang membuka/memulai royong tidak
sembarang nyanyian yang dinyanyikan…) Pada dasarnya royong merupakan sebuah doa permohonan
kepada penguasa alam Tuhan Yang Maha Kuasa akan keselamatan hidup di dunia. Menjauhkan roh-roh jahat yang akan mengganggu ketentraman hidup dan penghormatan terhadap leluhur. Namun syair yang dilafalkan oleh pa’royong (sang vokalis royong) kadang sulit dipahami oleh pendengar, setiap suku
kata dilagukan dengan irama tertentu yang cukup lama. Pendengar hanya menikmati iramanya saja. Biasanya satu royong dinyanyikan semalam
suntuk dan diikuti oleh bunyi-bunyian tradisional yang cukup indah didengar Pada masing-masing upacara tersebut, royong disajikan
sebagai musik vokal dengan syarat dan aturan tersendiri. Tempat pertunjukan royong selalu berada di dua tempat, yaitu ri kale balla (ruang tengah
rumah) dan ri bilik bungtinga (dalam kamar pengantin khusus pada upacara adat perkawinan). Jika yang melakukan hajatan adalah kalangan bangsawan, maka biasanya dibuatkan tempat khusus untuk pertunjukan royong yang disebut baruga
caddi (panggung kecil).
Menurut Basang (Solihing, 2004: 70), di dalam syair royong terkandung makna yang tidak ditemukan dalam bahasa sehari-hari, tetapi kalau
diperhatikan secara mendalam pemaknaannya mengandung doa-doa keselamatan hidup. Masyarakat Makassar meyakini bahwa dengan senandung royong dapat memberikan kebahagian hidup di masa datang, seperti bagi pasangan pengantin
baru. Pelantunan royong diyakini dapat menimbulkan kekuatan
gaib untuk membantu meraih tujuan-tujuan tertentu.
Perempuan Pa’royong
Pada masa sebelum masyarakat etnik Makassar memeluk agama Islam, posisi pa’royong mendapat tempat dalam struktur
pemerintahan kerajaan. Struktur kerajaan yang ada pada saat itu yaitu Arung/Karaeng atau To
Matoa (raja atau yang dituakan), Gella (pelaksana tugas raja), sanro (
sebagai orang pintar). Pa’royong dianggap sebagai sanro yang
mempunyai kemampuan dan selalu menjadi pusat dalam setiap pelaksanaan acara ritual adat. Keberadaan sanro atau pa’royong dalam struktur adat masyarakat Makassar
bukanlah sekunder atau pelengkap, tetapi sebagai bagian dari penopang keutuhan negeri. Pa’royong dianggap sebagai ahli spiritual masyarakat lokal dan sebagai orang yang
ahli mengobati, yang berarti memiliki kelebihan.
Kedudukan dan peran pa’royong yang umumnya perempuan,
dalam setiap upacara ritual di komunitas masyarakat Makassar, menandakan adanya realitas perempuan yang memiliki posisi dalam aktifitas tradisi. Hal ini memperlihatkan pengalaman perempuan tradisi dalam suatu masyarakat ternyata telah diberi tempat, meski masyarakat menganut paham patriarki.
Dalam posisinya sebagai sanro, pa’royong mempunyai
pengetahuan untuk menyiapkan peralatan dan bahan-bahan dalam pelaksanaan upacara adat. Sanrolah yang menentukan kapan waktunya upacara, material yang harus digunakan dalam upacara, dan memimpin upacara. Jadi sanro memegang
kendali, mulai dari persiapan upacara, saat upacara berlangsung, hingga berakhirnya upacara.
Setelah Islam masuk, struktur adat bertambah dengan keberadaan guru (biasa juga disebut anrong guru yaitu orang yang
melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan Islam). Namun peran sanro hampir tidak
berbeda dengan peran yang sering dilakukan oleh guru, bahkan memiliki kesamaan,
seperti dalam ungkapan makkaharui Sanroe, mattola balawi gurue (Sanro
mencegah malapetaka dan guru bertugas menolak bala). Kedua peran itu sesungguhnya
sama yaitu tugas dalam ritual-ritual tolak bala atau dalam hal memohon
keselamatan kepada yang kuasa Meskipun demikian, sanro mempunyai posisi dan peran yang
masih dominan. Jika sanro berperan dari persiapan sampai
selesai, maka peran guru baru berfungsi pada saat acara telah dilaksanakan atau pada saat tinggal
berdoa
saja. Guru (anrong guru) lebih banyak
menangani hal-hal yang berkaitan dengan masalah syariat. Sanro juga memiliki peran yang signifikan dalam
rapat-rapat adat, karena memiliki kedalaman batin dan ketajaman spiritualitas.
Kondisi ini menampilkan ruang negosiasi antara ajaran Islam dengan komunitas lokal. Sebuah ruang kontestasi ajaran Islam yang diwakili guru yang laki-laki dengan pemahaman ajaran Islamnya dan perempuan pa’royong dengan pemahaman budaya lokal. Kontestasi perempuan pada masa tersebut dalam
menghadapi masyarakat yang patriarki membuat adanya keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat. Laki-laki tidak merasa lebih penting dari
perempuan.
Walaupun masyarakat Makassar telah menganut Islam secara keseluruhan dan menerima ajaran Islam dari sang guru, tetapi wilayah
spiritual yang banyak menyentuh ritus tradisi tetap melekat pada sanro (pa’royong). Jadi
keberadaan pa’royong sebagai sanro di tengah masyarakat Islam Makassar telah
berterima semenjak dulu.
Tradisi royong juga menjadi suatu penanda identitas bagi masyarakat Makassar. Pada dasarnya identitas hanya bisa ditandai dalam perbedaan,
sebagai suatu bentuk representasi dalam sistem simbolik maupun sosial untuk melihat
diri sendiri tidak seperti yang lain. Identitas menyangkut apa-apa saja yang
membuat sekelompok orang atau komunitas berbeda dengan yang lainnya. Konsep
identitas berkaitan erat dengan gagasan budaya. Kesenian merupakan bagian dari
identitas diri sebuah etnik. Jelasnya bahwa tradisi royong hanya
terdapat dalam masyarakat etnik Makassar dan telah menjadi identitas diri bagi
orang Makassar, khususnya bagi kalangan bangsawan.
Seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan royong juga
mengalami perubahan dan mulai memudar. Tradisi royong cenderung
ditinggalkan. Tradisi royong sudah jarang dilakukan. Hal ini dimungkinkan, karena banyak kalangan tidak lagi melaksanakan upacara-upacara daur hidup secara tradisional.
Kalaupun dilaksanakan, pelaksanaannya dengan sederhana, dan tidak lagi membutuhkan kehadiran royong sebagai media permohonan doa. Akibatnya
secara perlahanlahan royong jarang dipentaskan. Terlebih lagi ada kesulitan untuk menemukan pelantun atau vokalis royong dalam suatu hajatan, karena
semakin berkurang pa’royong. Pa’royong yang masih ada tersisa rata-rata telah
berumur tua.
Dalam masyarakat Makassar (Kabupaten Gowa) ada beberapa jenis royong; yaitu (a) cui (burung); (b) Daeng Camummu (nama
orang); (c) kurrukurru jangang (panggilan terhadap ayam); dan (d) cui nilakborok (burung
yang diistimewakan). Royong ini merupakan nyanyian yang biasa
disajikan pada setiap upacara adat sunatan/khitanan, attompolok (aqiqah).
Syair-syairnya mengandung doa keselamatan dan cerita yang berkaitan dengan makna kehidupan
sehari-hari. Fungsinya adalah agar orang yang diroyongkan berumur panjang dan
kelak mendapat kehidupan yang baik.
Beberapa Syair Royong
Cui
Cuinamo, cuinamo cui ri poeng pangkenna, ri poeng pangke loena manrikbak,
sikayu-kayu mene situntung-tuntungang, ri passimbangenna sero, ri allakna
pakbineang, angkangkang bunduk pokena, assaraung donpak-dompak attakkang
bulo silasak napaale ri pakballe nanilurumo ri balo I balo mate nibuno mate
nitattak kallonna nanipokemo battanna, namateknekmo pakmaik.
Cui! battu
maeko mene anrikbakangi lolonnu, ilena gulubattunnu angkangkang
bunduk pokenu. Mangagaang ri Gowa tannga, numalo ri Tinggi mae numasengka
ri Bissei butta ri kabassungia, nanitayomo ri sombaya nikiokmi ri ratuia.
Tulusukmami mantama ri Gowa ri moncong-moncong. Anna mania ri paladang
tunisomba. Anna mantana ri jajareng ballak karaeng. Anna mangerang
pakballe.
Ibale nakilo lonna ilena gulukbattanna nasikuntumo numera, teamo
makjeknekmata namateknemo pakmai.
Pumbantinottok! siapa romang nusosok?, ruaji romang kusosok, nasakrak dale,
nakunggappa ruambatu, ruang kayu, sekre pakballe, sekre pakkape sumanga.
Inai ana, lanukape sumangakna? Anakna Gowa, jekne kalenna lakiyung. Kurru
ke jangang, ri tujunnako idaeng. Tottok garrinna, balekbeangi sawanna,
nanurikbakang cilaka tamatuanna.
Bangkennu, kondo buleng! kuntu laiya lolo, bonggannu, kondo! kontui
pappepek
banning. Ingkonnu, kondo! kontui buying nilappak. Dongkokmu, kondo!
Kaknyiknu kondo! kontui kipasak gading. Dadanu kondo buleng! Kuntui lappara
gading. Kallonu kondo! kontui sipik bulaeng. Lilanu kondo! kontui kamanyang
bauk. Amperengannu, kondo! Kontui pammoneang nisumpak. Rapponnu kondo!
kontui subang ri toil. Tainnu, kondo buleng! kontui pakleok basa
Daeng cammumuk! Daeng Cammumuk! kakdoklalomi kakdoknu poro sikakdek,
poro ia ri bawanu! palemek-lemek namandung rikallonnu; Nasikontumo masauk,
nateyamo masimpung, namateknekmo pakmaik.
Terjemahan :
Cuinyalah, cuinyalah cui di pangkal dahannya, di pangkal dahan besarnya,
terbang sendirian, terbang kemari tak hinggap-hinggap di perbatasan Sero,
di
antara Pakbineang. Dia memegang tombak perangnya, bertudung kecil-kecil,
bertombak bambu seruas, dipakai mengambil obat. Diseranglah oleh si Belang.
Si
Belang mati terbunuh, mati ditetak lehernya. Dibelah perutnya, diambillah
darahnya, dipakai memanterai obat. Obat penghias remaja, obat inti
perutnya.
Maka semuanya menangis, tak mau lagi menetes air matanya, maka senanglah
hatinya.
Cui datanglah kemari, menerbangkan mudamu. Obat inti perutmu, memegang
tombak perangmu, melalui Gowa Tengah, berjalan di TinggiMae, Kau singgah di
Bisei, tanah yang dimuliakan. Dipanggillah oleh Raja, diundanglah oleh yang
bertuan. Maka teruslah masuk di Gowa, di Moncong-moncong. Dia naiklah ke
balai kerajaan, di masuklah ke kedudukan istana, dia membawa obat, obat
penghias remaja, obat inti perutnya. Maka semua menangis, tak mau lagi
menetes
air matanya, maka senanglah hatinya (bahagialah)
Hai burung Pelatuk! Berapa hutan engkau masuki? Hanya dua hutan kumasuki,
sampai terbenam matahari. Aku mendapat dua buah, dua ekor satu obat, satu
pelambai semangat. Anak siapa akan kulambai semangatnya? Anaknya Gowa, air
bibitnya Lakiung. Kurr ayam, kearah tempatnyalah I Daeng. Cotok
penyakitnya,
hempaskan sawannya. Dan terbangkan celaka dan sialnya.
Kakimu wahai bangau putih! Seperti haliah muda. Pahamu wahai Bangau!
Seperti
pemukul benang. Ekormu wahai Bangau! Seperti kertas dilipat. Belakangmu
wahai Bangau! Seperti katak Jawa. Sayapmu wahai Bangau! Seperti kipas
gading.
Dadamu wahai bangau putih! Seperti mangkuk kecil trbuat dari gading.
Lehermu
wahai Bangau putih! Seperti sedok minyak. Matamu wahai Bangau! Seperti
intan
berkedip. Paruhmu wahai Bangau, seperti sepit Emas. Lidahmu wahai Bangau!
Seperti isap-isapan. Perutmu wahai Bangau, seperti gelang dibentuk. Hatimu
wahai Bangau! Seperti kemenyan harum. Perut besarmu wahai Bangau! Seperti
tempat adonan logam. Buah pinggangmu wahai bangau! Seperti subang di
telinga.
Baumu wahai Bangau putih! Seperti kemenyan harum.
Daeng Cammummu! Daeng Cammummu! Makanlah makananmu! Biar sedikit,
biar yang ada di mulutmu. Perlahan-lahan supaya turun di lehermu. Makanya
semua nikmat tak mau lagi susah, dan bahagialah. (Djirong, 1999:
1-83)
(Tradisi Royong) Andi Sulkarnaen, FIB UI 2010 Universitas Indonesia
Label:
JEJAK MAKASSAR
Langganan:
Postingan (Atom)




