AdSense

Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Desember 2012

MATINYA KOMUNITAS URBAN (Menyoal Ruang Sosial di Makassar Yang Hilang)


Ahmadin - Dosen FIS UNM dan Universitas Fajar (UNIFA)

Menelaah dinamika suatu kota dengan segala perubahan baik struktur ruang fisik maupun sosial, merupakan upaya menghadirkan kembali sisi kelampauan dari kehidupan sosial masyarakat. Tak terkecuali dinamika Kota Makassar yang dijadikan sebagai unit analisis dalam tulisan ini, akan berangkat dari penggambaran tentang kondisi kelampuan yang merupakan rangkaian proses perkembangannya di kemudian hari.
Tipuan Penguasa. Pojok Karebosi kini menjadi lahan Kafe. (Ariane Mays)
Tipuan Penguasa. Pojok Karebosi kini menjadi lahan Kafe. (Ariane Mays)



Pentingnya ruang sebagai titik tekan perhatian pada tulisan ini, merupakan dimensi lain dari teori sosial modern yang sejauh ini lebih tertarik pada persoalan waktu yang dilihat sebagai bidang dinamis dari perubahan sosial. Dengan demikian, kegelisahan serta kerinduan seorang Michel Foucault (1998) akan pentingnya menulis seluruh sejarah ruang, menjadi bagian dari kenyataan dalam khasanah kajian akademik terutama sosiologi sejarah.  

Tumbuh dan berkembangnya lokalitas buatan tersebut, dalam kenyataannya hanya melahirkan ruang yang membuat kehidupan sehari-hari terpenggal dan terisolir


Demarkasi Ekologi Berbasis Etnik
Makassar sebagai ibukota provinsi Sulawesi Selatan, secara historis pernah ditata dan dibentuk dengan setting kota zaman pertengahan di Eropa oleh rekayasa teknologi ala kolonial Belanda pada abad ke-17. Kehidupan dalam benteng (intra-muras) pun menjadi ciri khas kala itu dan menjadi elemen utama yang dominan, sekaligus berfungsi sebagai pertahanan dari serangan sporadis penduduk pribumi.

Elemen kedua tumbuh dan berkembang di sebelah timur laut Fort Rotterdam, oleh Speelman disebut perkampungan pedagang dengan perumahan bagi orang-orang asing dan pendatang (Negory Vlaardingen). Penghuni kawasan ini merupakan campuran dari orang-orang Tionghoa peranakan dan penduduk asli Kristen. Selain itu, terdapat juga perkampungan orang-orang Wajo di sebelah Timur Vlaardingen dan sebelah utara kampung Wajo ini terdapat tempat pemukiman orang-orang Cina yang disebut Kampung Cina atau Pecinan yang dalam bahasa Makassar disebut Paccinang.

Elemen ketiga yang ikut membentuk struktur dan tata ruang pemukiman dalam pusat wilayah Makassar adalah Kampung Melayu, yakni pemukiman penduduk asli yang bersifat kohesif di Utara Vlaardingen. Penamaan ini didasarkan oleh asal usul penghuninya yakni orang-orang Melayu yang diusir dari Makassar karena mudah diperalat oleh Belanda bersama dengan orang Bugis. Elemen keempat yakni kawasan pemukiman di sebelah Selatan Fort Rotterdam yang dikenal sebagai Kampung Baru. Daerah ini dihuni oleh orang-orang pribumi dari Asia serta budak yang telah dibebaskan, yang bekerjasama dengan Belanda dan menjadi Kristen dikenal dengan istilah Mardijkers. Nama ini kemudian disesuaikan dengan pengucapan penduduk setempat, yakni Maradekaya sebagaimana penyebutan yang dikenal hingga sekarang. 

Selain itu, di kota Makassar juga terdapat perkampungan lain seperti Kampung Lette dan Loji yang terletak di pinggir pantai (sebelah Barat Jalan Nuri sekarang). Penamaan Lette didasarkan atas kecenderungan penghuninya yang hanya tinggal sementara, sedangkan Kampung Lojia didasarkan atas adanya Benteng Lojia masa VOC dulu. Sementara itu, di Jalan Mangkura (sekarang bernama jalan La Galigo dan Jalan La Sinrang) pernah terdapat pemukiman orang Banjar yang pada masa VOC bernama kampung Mangkura. Bahkan masih banyak lagi pusat permukiman lainnya termasuk Kampung Maluku di Jalan Datu Munseng, pemukiman orang Buton di sekitar pasar Butung, dan sebagainya.

Karakteristik kota yang ditata dengan arsitektur kolonial ala zaman pertengahan di Eropa pada beberapa kota bekas kekuasaan Belanda di Indonesia termasuk Makassar, mengingatkan kita pada formulasi dan tipe kota menurut Weber. Menurutnya, satu elemen yang muncul dari berbagai batasan mengenai kota adalah adanya kumpulan tempat tinggal yang terpisah namun dalam satu pemukiman yang tertutup. Dalam ruang tertutup inilah tercampur aspek kekuasaan bersenjata (militeristik) sebuah kota, sebagaimana anggapan bahwa kota sejatinya adalah juga benteng.

Dominasi kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Makassar selama beberapa waktu lamanya, memang harus diakui telah memproduksi suatu tatanan kehidupan sosial, pola pemukiman, dan situasi ekologi khas ala Eropa. Diferensiasi dan bahkan segragasi dengan berbagai ukurannya, pun tampak memetakan secara sosial masing-masing kelompok berlatar etnik di kota ini. Serentak dengan itu, kepentingan dan kekuasaan menjadi motif kebijakan sehingga pemetaan yang cenderung separatif-polaritatif ini lebih bersifat politik.
Demarkasi ekologis berdasarkan etnik di Makassar secara historis, dipengaruhi oleh beberapa faktor situasional berikut ini:

  1. Warisan masa lampau, yakni Makassar sejak dahulu kala merupakan daerah tujuan (niaga) sehingga berbagai pendatang dengan latar sosial dan etnik beragam menjadi penghuni beberapa tempat. Dapat dipastikan bahwa faktor penarik dan pendorong kedatangan orang-orang dari luar ke Makassar, antara lain terkait dengan pemanfaatan jaringan kekeluargaan. Dengan demikian, proses pembentukan pemukiman awal di daerah tujuan (Makassar) mengikuti atau mengelompok berdasarkan anggota etniknya.
  2. Kebijakan pemerintah kolonial, yakni kebijakan monopoli VOC dan penataan pemukiman secara politik oleh pemerintah Belanda mengikuti setting kota abad pertengahan di Eropa.
  3. Kuatnya fanatisme etnosentrisme, yakni terkait dengan beberapa prinsip dasar bahwa hidup ideal adalah hidup bersama dan merasa senasib-sepenanggungan sebagaimana prinsip orang Bugis padaidi, padaelo, sipatuo, sipatokkong. Prinsip yang mengandung makna relevan, juga dapat ditemui di kalangan orang-orang Makassar seperti: abbulo sibatang (bermakna pentingnya kebersamaan dalam segala hal). Hal ini identik dengan pernyataan Lawson (2001) bahwa pengelompokan permukiman terbentuk atas dasar kepercayaan dan latar budaya masyarakat. Bahkan menurut penulis buku The Language of Space ini, bahwa anggota masyarakat hidup dalam proses pemanfaatan wilayah pemukiman untuk kelangsungan tradisi atau warisan budaya.
  4. Solidaritas mekanik dan masih kentalnya primordialisme, yakni berhubungan dengan keinginan mereka untuk selalu bahu-membahu dalam setiap pekerjaan atau persoalan. Selain itu, juga terkait dengan penghormatan terhadap tokoh atau pemimpin yang kharismatik. Tipe Kehidupan masyarakat semacam ini dihubungkan dengan social relationship yakni ikatan ideologi atau kepercayaan terhadap pesan leluhur. Karena itu, adanya interaksi sosial yang berlangsung karena ikatan kultural, pada dasarnya disebabkan oleh munculnya sentiment community.

Kencenderungan hidup mengelompok berdasarkan ikatan etnik dan keserupaan kultural ini, juga merupakan tradisi pedesaan serta warisan historis yang berselimutkan kebanggaan identitas para penghuninya. Gejala sosial seperti ini, menurut John Friedman dalam  Planning in the Public Domain: from Knowledge to Action (1988), disebutnya dengan istilah life space dan political community. Bahkan merupakan suatu kekuatan sosial (social power), yang terbentuk dalam satu wilayah kehidupan masyarakat yang secara fisik berpusat pada kekuatan unit keluarga dan aktivitasnya. Dengan demikian, life space menciptakan rasa bangga terhadap tempat tinggalnya dan kesatuan wilayah tempat tinggal menciptakan komunitas yang membentuk political community sebagai kekuatan publik dalam kepentingan bersama pada suatu ruang komunitasnya.   

Uraian tersebut menunjukkan bahwa demarkasi ekologi berbasis etnik sebagai karakteristik pemukiman di Makassar, merupakan refleksi dari life space untuk mengukuhkan local identity (identitas lokal) dan menciptakan goresan pada ruang tempat mereka hidup. Dengan demikian, proses ini pada gilirannya mengembangkan suatu space (ruang) menjadi place (tempat). Karakteristik sosial dan tipe struktur pemukiman seperti ini, menunjukkan bahwa di kota Makassar berdasarkan perspektif place theory dan space phenomenology, ada satu fase perkembangan yang dicirikan oleh keterikatan manusia pada ruangnya sebagai wujud power of territory atau kekuatan lokal berbasis etnik.

Rombaknya Ikatan Sosial Berbasis Etnik
Pertumbuhan dan perkembangan Kotamadya Ujungpandang, pada gilirannya membutuhkan strategi pembangunan yang solutif terutama terkait dengan pemukiman. Maksudnya, bahwa perubahan tata ruang kota perlu dilakukan sekaligus yang dianggap sebagai salah satu faktor rombaknya pemukiman berbasis etnik. Kondisi pemukiman di Makassar yang sebelumnya merupakan aglomerasi kampung-kampung berbasis etnik, kemudian berubah dalam bentuk pengintegrasian ke dalam wilayah administratif pemerintahan bernama kecamatan. Kecuali Kampung Wajo yang tetap dijadikan sebagai nama kecamatan, Kampung Maloku menjadi Kelurahan Maloku, Kampung Melayu menjadi Kelurahan Melayu, beberapa pemukiman lainnya tampak menggunakan nama lain untuk menyebut gabungan pemukiman tersebut.

Untuk mengkaji fenomena rombaknya ikatan sosial dan berubahnya struktur pemukiman berbasis etnik di kota Makassar, menarik didekati dengan hampiran konsep urban revolution. Karena itu, fokus perhatian dari kajian ini berorientasi pada 3 aspek, yakni: penggerak utama (prime mover), sebab-sebab berganda (multivariant causality), dan efek berganda (multiflier effect).

Tentang aspek penggerak utama (prime mover) yang menyebabkan rombaknya ikatan sosial tersebut, dielaborasi dengan menggunakan (atau membandingkan) pandangan Childe dalam The Urban Revolution: Contemporary Archeology (1972) tentang kehidupan kota. Menurutnya, fenomena perkotaan merupakan tahap akhir dari evolusi kebudayaan secara menyeluruh. Tahap berikutnya akan muncul apa yang diistilahkan sebagai urban revolution dan dicirikan oleh perubahan fundamental dalam tatanan ekonomi yang pada gilirannya memengaruhi pertumbuhan penduduk dan pemukiman. Singkatnya, bahwa Childe dalam konteks ini telah mengukuhkan perkembangan teknologi (atau ekonomi) sebagai ciri masyarakat kota. Bahkan ia menggambarkan fenomena kehidupan kota, sebagai simbol revolusi ekonomi.

Bila merujuk pada konsep prime mover ala Childe tersebut, maka proses rombaknya ikatan sosial dan struktur pemukiman berbasis etnik di Makassar pertama-tama karena dipicu oleh revolusi ekonomi. Maksudnya, perubahan orientasi hidup masyarakat sekaligus perkembangan variasi kebutuhan oleh tuntutan zaman, pada gilirannya menyebabkan para anggota kelompok etnik berubah ciri solidaritas sosialnya.

Dengan kata lain, perubahan dan perbedaan kepentingan (kebutuhan) hidup masing-masing orang, lalu melahirkan kecenderungan hidup baru yang sebelumnya berciri collective action (solidaritas mekanik) berubah menjadi individual action (solidaritas organik). Dalam perspektif teori sistem, keragaman menyangkut tujuan dan kepentingan serta perbedaan orientasi masyarakat kota, pada gilirannya menciptakan diferensisasi dan polarisasi sosial baik dalam hal aktivitas maupun lingkungan sosial.

Mengenai sebab berganda (multivariant causality), dapat dibandingkan dengan perspektif Sjoberg (1969) yang memandang munculnya kehidupan kota disebabkan oleh tiga faktor yakni: lingkungan alam yang mendukung, teknologi maju, dan struktur politik yang mantap. Bahkan kota menurutnya melewati tahapan evolusi dengan tiga tahap, yakni pertumbuhan dalam ukuran dan jumlah, persebaran kota, keruntuhan dan kemunculan kembali.

Dalam kaitannya dengan rombaknya ikatan sosial berbasis etnik (sebagai ciri struktur pemukiman sebelumnya), maka konsep sebab berganda ini menarik. Dukungan lingkungan alam sebagai salah satu dari tiga faktor yang disebutkan Sjoberg tersebut, terkait dengan perubahan dan perluasan areal pemukiman yang sekaligus membuka peluang kepada siapa saja untuk menempati lahan-lahan yang tersedia dengan beragam alasan (pertimbangan) berdasarkan kebutuhannya. Sebut saja pertimbangan jarak dengan tempat bekerja (beraktivitas sehari-hari), lingkungan sosial (terkait keamanan), jaringan kerja (sosial) baru (mungkin terkait patron-klien), dan sebagainya.

Faktor kedua menyangkut teknologi maju, terkait dengan kemungkinan mobilitas sosial terjadi karena faktor pertimbangan kemudahan akses fasilitas publik, seperti: lembaga pendidikan, rumah sakit, pusat perbelanjaan, jalur transportasi, penggunaan fasilitas telepon, dan lain-lain. Salah satu yang cukup menarik dari faktor ini, yakni penggunaan perangkat komunikasi semisal telepon berpotensi melahirkan perubahan pola pikir tekait dengan ikatan keluarga.

Kondisi seperti ini pada gilirannya akan berkembang menjadi fragmentasi dimana masing-masing kelompok sosial menduduki ruang-ruang tertentu yang cukup jelas garis demarkasinya

Sebut saja misalnya seseorang memilih meninggalkan anggota keluarga yang sebelumnya tinggal berdekatan (secara fisik), karena pertimbangan bahwa mereka setiap saat dapat berkomunikasi tanpa harus bertemu secara fisik (face to face). Singkatnya, mereka beranggapan bahwa meski berjauhan secara fisik, namun mereka sesama anggota keluarga (kerabat) masih dekat secara psikis oleh bantuan fasilitas teknologi tersebut.  Hal seperti inilah yang dilukiskan oleh Evers (2002) tentang kehidupan yang berubah menjadi abstraksi dan kota menjadi bayang-bayang. Bahkan saat ia membentang kondisi perkotaan di Asia Tenggara lewat hampiran kontruksi emik-nya, ia mengamini pernyataan Castells (1983), bahwa kota masa kini adalah ruang pengucilan kolektif.  

Faktor ketiga yakni struktur politik yang mantap, terkait dengan jaminan (garansi) sosial baik berhubungan dengan keamanan dalam hal status kepemilikan (penguasaan) tanah, maupun bentuk-bentuk ancaman sosial dari kelompok-kelompok tertentu. Maksudnya, kondisi saat ini sudah terbilang kondusif dan tidak seperti jauh sebelumnya dimana kehidupan sosial masyarakat masih diliputi oleh fanatisme kelompok yang sangat kental.

Struktur politik yang mantap dan jaminan kemanan yang tidak meragukan seperti ini, secara historis menandai berakhirnya fase kehidupan intra-muras (kehidupan dalam benteng). Maksudnya, mereka yang sebelumnya hidup mempertahankan diri dalam kelompoknya pada satuan pertahanan keamanan dengan benteng tersebut, kemudian keluar berbaur secara intergratif dengan penduduk sekitarnya. Demikian pula saat keadaan lingkungan luar sudah kondusif, juga mendorong anggota etnik yang sebelumnya bermukim bersama kelompoknya dalam satu konsentrasi pemukiman yang ekslusif lalu keluar berbaur dengan anggota masyarakat secara umum. 

Tentang efek berganda (multiflier effect), diulas dengan mengacu pada pandangan Renfrew (1972) yang memandang kemunculan dan pertumbuhan kota sebagai hasil dari proses pemusatan penduduk dalam rangka interaksi untuk tujuan-tujuan tertentu. Bahkan menurutnya, munculnya pusat pemukiman kota dapat terjadi melalui dua macam proses, yakni proses pertumbuhan endogen dan eksogen. Proses pertama, merupakan proses pemusatan penduduk dalam masyarakat yang berlangsung secara independen. Proses kedua, merupakan proses pemusatan penduduk disebabkan karena masuknya sistem sosial budaya luar yang memiliki tingkat perkembangan lebih maju.

Matinya Komunitas Etnik
Tatkala menggambarkan tentang kontruksi emik perkotaan di Asia Tenggara, Evers (2002) berangkat dari sebuah pertanyaan fundamental yakni proses apakah yang membentuk struktur aglomerasi kota masa kini?. Melengkapi kegelisahan akan perubahan wajah kota tersebut, ia lalu mengamini pernyataan Castells (1983) bahwa: “kota masa kini adalah ruang pengucilan kolektif dan kekerasan individual, yang ditransformasikan oleh berbagai umpan balik menjadi suatu aliran yang tak pernah berhenti dan tak pernah mulai. Kehidupan berubah menjadi abstraksi, kota menjadi bayang-bayang”.

Tipologi kota yang digambarkan oleh Evers dan Castells tersebut, kini pun menjadi karakter kota Makassar terutama berawal sejak hegemoni kapitalisme menjamah “keperawanan” wilayah-wilayah pemukiman domestik dan “mengobrak-abrik” ruang-ruang sosial yang penuh makna simbolik kultural. Dengan kata lain, terjadilah semacam shiffing paradigm tentang makna sebuah ruang spasial yang sebelumnya diukur berdasarkan takaran nilai budaya yang sakral pada gilirannya dimaknai dengan alat ukur nilai jual (rupiah) yang profan. 

Perubahan orientasi nilai (transfer of values) atas spasial tersebut, lalu diiringi oleh praktek jual-beli tanah antara pemilik yang juga sesungguhnya membutuhkan sejumlah uang untuk memenuhi berbagai keperluan hidup dengan kaum pemilik modal yang hendak membuka usaha tertentu pada lahan/tanah tersebut. Konsekuensi keruangan (spatial consequences) yang ditimbulkan oleh praktek jual-beli lahan tersebut, yakni runtuh dan rombaknya lokalitas dengan komunitas khusus yang menghuninya. Dengan kata lain, meminjam istilah Lefebvre (lihat Evers, 2002) dikomoditaskannya lokalitas oleh kekuatan kapitalisme, pada gilirannya melahirkan ruang-ruang buatan (ruang abstrak) yang berujung pada gejala “kematian sosial” sebagaimana istilah yang dipopulerkan oleh Yasraf Amir Piliang (2004), saat ia membentang realitas kebudayaan dalam era yang diberinya label “posmetafisika”.

Berbagai kompleks perumahan yang dibangun dengan tipe dan desain arsitektural yang variatif secara artistik, pada gilirannya memunculkan tipe hubungan warga yang dekat secara fisik namun jauh secara psikis. Serentak dengan itu, muncullah anggapan dan bahkan kecenderungan daripada berkenalan dengan tetangga, para penghuni kompleks perumahan lebih memilih ke pusat perbelanjaan (mall), restoran, kantor, rumah teman, pulang kampung dan lain-lain.

Tumbuh dan berkembangnya lokalitas buatan tersebut, dalam kenyataannya hanya melahirkan ruang yang membuat kehidupan sehari-hari terpenggal dan terisolir. Bahkan hanya memuaskan permintaan pihak tertentu, sehingga diferensiasi fungsional ruang kota dan kegunaannya yang terspesialisasi, berpotensi menghilangkan jati diri. Hal seperti inilah yang  sangat kontradiktif, dimana penciptaan lokalitas idealnya sebagai upaya membangun saling ketergantungan antara sesama penghuni lokalitas dan dengan demikian dapat terhubungkan kembali aspek-aspek sosial, politik, dan psikologi dalam kehidupan sehari-hari. 

Kondisi yang kontradiktif tersebut, diperparah oleh lahirnya prinsip menganggap ruang (spasial) tidak lagi penting untuk sebuah interaksi, transaksi, serta komunikasi. Semua itu, dapat dilakukan melalui bantuan media/perangkat teknologi komunikasi seperti telepon, sehingga berjauhan tempat tinggal sesama keluarga pun tidak lagi menjadi persoalan yang mendasar. Bahkan sejak dikenal/digunakannya teknologi 3G melalui handphone atau telepon selular, orang-orang dengan kepentingan tertentu dapat berkomunikasi tak ubahnya bertemu secara langsung atau tatap muka (face to face). Keberlanjutan dari prinsip dan kecenderungan seperti ini, merupakan fenomena deteritorialisasi yang mengancam rapuhnya komunitas urban.

Kepingan yang Tersisa
Kuatnya arus desakan kaum pemilik modal kota mengekspansi wilayah ke arah pemukiman-pemukiman berbasis (budaya) lokal, pada gilirannya telah meluluhlantakkan basis-basis kultural yang semestinya menjadi warna dan nuansa tersendiri dari wajah kota Makassar. Akibatnya, identitas (jati diri) sebuah kota (Makassar) pun hilang secara gradual digantikan oleh identitas baru yang semu.

Akhirnya, hanya beberapa identitas sosial dan simbol kultural etnik yang masih tersisa oleh “ganasnya” gelombang modernisasi dan globalisasi kota. Sebut saja identitas perkampungan orang-orang Melayu, dewasa ini hanya dapat dilihat melalui Masjid Makmur Melayu, jejak komunitas orang-orang Wajo pada Masjid Taqwa, peninggalan komunitas orang-orang Maluku pada Masjid Maluku, dan Klenteng-kelenteng di Jalan Sulawesi sebagai jejak perkampungan orang-orang Tionghoa di Makassar. 

Dalam kaitannya dengan kontruksi kultural, maka perkembangan Kota Makassar sejauh ini lebih diwarnai oleh ideologi baru dan strategi politik penguasa. Dengan demikian, tidak adanya kelompok strategis (seperti kata Evers) yang mampu mendominasi kontruksi kultural kota, maka sama artinya membuka ruang sekaligus peluang kepada struktur-struktur lain muncul dan kota pun akhirnya akan tampil plural (majemuk). Kondisi seperti ini pada gilirannya akan berkembang menjadi fragmentasi dimana masing-masing kelompok sosial menduduki ruang-ruang tertentu yang cukup jelas garis demarkasinya.

Efek sosio-kultural yang muncul di balik kondisi masyarakat Makassar yang majemuk dan hanya dipertautkan oleh pasar serta bingkai pemerintahan (meminjam istilah Furnivall, 1980) adalah terjadinya overlap dari segi makna terutama bila kelompok-kelompok sosial melekatkan nilai-nilai simbolis yang berbeda pada ruang yang sama. Kemungkinan lainnya adalah makna yang tumpang tindih tersebut sama-sama hidup, namun akan diabaikan oleh kelompok-kelompok lain yang tidak menganutnya. [V]

by Facebook Comment

Senin, 16 Juli 2012

Link Bukti dari Penciptaan Kelangkaan Buatan oleh Industri Minyak

Group: Internal memos show oil companies limited refineries to drive up prices
 Kredit Refrensi untuk Artikel ini :
http://www.prisonplanet.com/archives/peak_oil/index.htm
http://www.powerpolitics.org/archives/000004.html
http://www.vialls.com/wecontrolamerica/peakoil.html
http://www.rollingstone.com/politics/story/_/id/7203633?pageid=rs.Home&pageregion=single7&rnd=1111922613104&has-player=true&version=6.0.12.857
http://www.conspiracyplanet.com/channel.cfm?channelid=63&contentid=2170&page=2
http://www.prisonplanet.com/audio/110405peakoil.mp3
by Facebook Comment

Masa Depan Minyak Bumi

Hari ini kita dianjurkan habis-habisan oleh pemerintah untuk menghemat energi BBM, demi menyisakan energi dari minyak untuk anak cucu kita.Jika memang minyak benar-benar akan habis dalam beberapa puluh tahun lagi, mengapa sekarang cadangan minyak terus meningkat dan produksinya kian meroket ?
Tahu 1980-an OPEC memutuskan kuota produksi minyak didasarkan pada jumlah cadangan yang ada di negara masing-masing, semakin besar cadangannya maka semakin besar pula produksinya .BElakangan ini Arab Saudi melaporkan peningkatan cadangan minyak mentahnya sekitar 200 miliar barel. stok Minyak Saudi aman dan berlimpah , kata para pejabatnya.
Ada juga laporan bahwa Rusia telah mengalami peningkatan yang jauh lebih besar pada cadangan minyaknya bahkan melampaui Arab Saudi. Mengapa Rusia mengumumkan hal ini jika Rusia percaya bahwa cadangan minyak adalah terbatas?tampak jelas bahwa Rusia telah siap dengan produksi minyak tak terbats di masa depan
Yang jelas ada kontradiksi besar antara teori keterbatasan minyak dengan fakta peningkatan cadangan minyak
Tampaknya bahwa setiap kali ada semacam krisis energi, OPEC selalu meningkatkan produksi . Alasannya mereka melakukannya untuk menurunkan harga, namun harga selalu naik karena mereka juga menyebarluaskan mitos bahwa mereka menguras beberapa cadangan terakhir untuk pasar.
Bukti ilmiah juga sangat bertentangan dengan keterbatasan suplai minyak, baru-baru ini diperbarui dalam paper Ilmiah yang dimuat Dalam ‘Energia’ menunjukkan bahwa minyak adalah zat abiotik,dan bukanlah produk yang berasal dari materi biologis yang mengalami pembusukan berjuta-juta tahun lalu. Minyak, bukan sumber daya non-terbarukan. seperti batubara, dan gas alam, yang bisa terisi kembali dari sumber dalam perut bumi.
Rusia berhasil membuktikan kalau minyak bumi ternyata bukan dari fosil dan dapat diperbaharui karena berasal dari lapisan magma lebih di kedalaman lebih dari 30,000 kaki dan tidak ditemukan lapisan organik.
Tidak kebetulan kemudian bahwa Rusia, yang memelopori penelitian ini kemudian melakukan serangkaian proyek penggalian minyak bumi dengan kedalaman yang lebih jauh lagi 30.000 meter
Bukti-bukti lain bahwa minyak adalah bahan bakar abiotik (bukan fosil), dapat Anda pelajari dengan mencari informasi di internet. Anda bisa mengetik “abiotic oil” di search engine seperti google ataupun yahoo..berikut dibawah ini link beberapa refrensi tentang kebohongan teori peak oil atau keterbatasan sumber minyak.. by Facebook Comment

Program Illuminati Dibalik Kebohongan Keterbatasan Alam Dalam Produksi Minyak Bumi

Teori Peak Oil adalah kebohongan masif yang dirancang untuk menciptakan kelangkaan buatan demi mendongkrak harga, juga memberikan negara sebuah alasan untuk mengorbankan standar hidup yang telah kita perjuangkan dengan susah payah. Publisitas menciptakan CFR dan Club of Rome strategy manual sejak 30 tahun lalu mengatakan bahwa pemerintah global perlu mengontrol populasi dunia melalui neo-feodalisme dengan menciptakan kelangkaan buatan.
Sekarang arsitek sosial de-industrialisasi Amerika Serikat menyalahkan disintegrasi ekonomi kita pada kurangnya pasokan energi.
Sekarang ekonomi dunia telah menjadi begitu terpusat melalui operasi globalisasi, mereka akan terus mengkonsolidasikan dan menyalahkan pemakaian berlebihan atas bahan bakar yang bersumber dari fosil, sementara pada saat yang sama mereka juga menghalangi pengembangan dan integrasi teknologi bersih yang terbarukan.
Dengan kata lain, Sumber minyak bumi yang dinyatakan dari fosil mahluk hidup adalah kebohongan besar untuk menciptakan kelangkaan buatan dan mengendalikan harga . Sementara itu, teknologi bahan bakar alternatif yang telah ada selama beberapa dekade juga sengaja ditekan pengembangannya. Peak Oil adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh elit, oleh industri minyak, oleh orang-orang bahwa Anda akan berpikir puncak minyak akan membahayakan, kecuali itu adalah penutup untuk agenda lain.
Produksi Minyak Dunia Menurut Sekenario Peak Oil Theory
Dan begitulah realitanya dunia ini yang penuh dengan kepalsuan. Teori bahwa minyak bumi berasal dari sisa fosil biologis zaman dahulu memanglah sebuah kebohongan besar dari para elit zionis-Illuminati (yang memang sejak awal menguasai bisnis minyak, media, dan institusi pendidikan). Illuminati ingin menggunakan propaganda Peak Oil untuk menaikkan harga minyak dan mengeksekusi rencana depopulasi dunia mereka .
Saat harga minyak naik melewati kemampuan beli sejumlah besar negara, hanya negara-negara yang diizinkan hidup oleh Illuminati yang akan mendapatkan minyak. Beberapa milyar penduduk bumi akan dimusnahkan (depopulasi) secara kejam dalam kekacauan dan kepanikan akibat matinya industri dan perdagangan di dalam negeri mereka.
Mungkin bagi sangkaan orang awam, keuntungan penjualan minyak akan dinikmati oleh negara-negara penghasil minyak seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Libya dan Indonesia. Namun kenyataannya meskipun ladang produksi minyaknya ada di Arab Saudi dll, namun sebagian besar perusahaan penambang dan pengolah minyaknya dimiliki oleh perusahaan asing mafia juragan minyak, Rockefeller beserta kolega-koleganya yang kesemuanya dibalik layar berada dalam struktur illuminati. Di Indonesia sendiri, 90% perusahaan minyak yang ada dimiliki oleh perusahaan asing. Maka jangan heran sebagai salah satu negara penghasil minyak, tidak ada sedikitpun jejak keuntungan besar yang diraup oleh negara ini. Sedikitpun dana yang ada belum terkorupsi, dana ini, dana itu yang tidak jelas kemana larinya. Yang jelas nikmatin ya mafia2 minyak itu, rakyat kecil kayak kita mah dianggap ngga perlu, yang penting beli BBM terus, dan sekarang dicabut subsidinya pula.
Rockefeller Liberal Connection Dalam banyak hal, Keluarga Rockefeller bekerja langkah demi langkah dengan Zionis Yahudi. John D. Rockefeller adalah monopoli yang mengikuti di jalan banyak orang Yahudi yang kontrol industri, terutama perbankan, menunjukkan cara di mana kekuasaan, sekali dicapai, mungkin selamanya memegang “dari atas,” tinggi di atas warga dunia bangsa.
Dari link2 di bawah, ternyata perusahaan2 migas asing seperti Exxon Mobil, Chevron, Conoco, Amoco, BP, Arco, dsb merupakan pecahan dari Standard Oil yang dimiliki oleh Rockefeller. Rockefeller ini ditengarai sebagai Yahudi dan pemikirannya sejalan dengan Zionis. Perusahaan2 “Yahudi AS” menguasai 90% migas di Indonesia.
http://en.wikipedia.org/wiki/Standard_Oil
http://www.jewwatch.com/jew-leaders-rockefeller.html
Pengaruh globalisasi, liberalisme dan kapitalisme racun zionis ini semakin berkembang melalui faham neo-liberalisme, yang bertujuan untuk mengkomersialkan seluruh barang dan jasa, jika perlu dengan meniadakan fungsi pemerintah dalam bidang kesejahteraan rakyat. Privatisasi besar-besaran badan-badan usaha milik Negara termasuk dalam kerangka pengaruh liberalisme dan kapitalisme ini. http://www.setneg.go.id/index.php?It…tent&task=view
Rakyat Indonesia .. dibuatnya menjadi tamu dinegeri sendiri … dibuatnya menjadi budak kaum kapitalis asing Rockefeller di negeri ini … yang dimana didukung oleh pemerintah (kacung neoliberal )
Indonesia Negara yang begitu kayanya dibuat menjadi negara miskin …Dulu Indonesia di rampas rempah2 nya … Bangsa Indonesia dengan keras melawan … hingga banyak pahlawan kita yang berguguran …Dimasa Kini apa yang terjadi ? .. justru kini penjajah menyerang jauh lebih HEBAT, Lebih FRONTAL, serta sudah menguasai beberapa wilayah Indonesia dan terus lebih agresif lagi .. Namun apa sikap Rakyat Indonesia ? .. Justru justru terlena .. tidur dengan di elus2 dengan berbagai macam hiburan TV yang melenakan..ataupun sibuk terkungkung dengan rutinitas kerja keras, kemiskinan, kesulitan materi dalam dunianya masing-masing…
Saat ini, akibat propaganda Peak Oil, semua negara ramai-ramai mengembangkan minyak nabati yang disebut biofuel. Mereka menggunakan bahan pangan seperti jagung dan gula untuk membuat minyak baru. sekalipun mereka tahu energi yang diperlukan untuk memproduksi satu unit minyak biofuel lebih besar daripada energi yang kemudian bisa didapat dari satu unit minyak biofuel, rencana ini tetap jalan terus.
Selain itu, efek dari tindakan ini adalah mengurangi lahan pertanian untuk bahan pangan. Tanah pertanian yang sebenarnya untuk memproduksi bahan pangan sekarang sebagian dikonversi sebagai lahan pertanian yang produknya dipakai untuk membuat bahan baku biofuel. Salah satu penyebab kenaikan harga komoditi pertanian beberapa tahun terakhir ini adalah karena hal ini, dan kabar buruk bagi para kelas menengah dan orang miskin adalah intensitas program ini sekarang masih di tahap awal. Di tahun-tahun mendatang, akan ada semakin banyak lahan pertanian untuk memproduksi biofuel dan oleh sebab itu akan membuat pasokan bahan pangan menjadi semakin ketat, alias harga bahan pangan akan terus meningkat. …
food inflation menjadi perhatian para pengamat ekonomi, saya melihat dr perspektif lingkungan juga dan ternyata ada benang merahnya di teknik2 produksi GMO. Memperkecil lahan pertanian = menggantungkan hidup petani pada teknologi pertanian yg dikuasai asing, menjadikan lahan2 petani sbg industri trmsuk biofuel, kemudian kanibalisasi lahan dng menjadikan lahan pangan yg bergantung pd air tawar ke air asin. Saat ini ada ujicoba para insinyur monsanto membuat sawah di tepi pantai dng keramba spt rumput laut. its insane!
(untuk memahami bagaimana sepak  terjang zionis illuminati silahkan anda buka halaman  free download buku diblog ini atau bisa melihat artikel2 sebelumnya) by Facebook Comment

Beberapa Contoh Bukti Kasus Konspirasi Kebohongan tentang Kelangkaan Sumber Minyak

Negara kaya minyak .. dibuat menjadi miskin minyak … Kalau negara2 macam Venezuela, TimTeng bensin lebih murah .. seharusnya Indonesia jauh lebih murah … namun mengapa ? ….
Sesuai UU No.25/2007, yang ditetapkan oleh Presiden, Asing diperbolehkan menguasai, menyedot, dan menguras tanah Indonesia selama hampir satu abad (Era Soeharto, 30 Tahun) Indonesia telah merdeka 66 tahun, tetapi 88,8 persen pertambangan migas dikuasai asing. Pertamina, BUMN yang seharusnya jadi alat negara untuk mengontrol cadangan dan produksi migas nasional, hanya menguasai 8,8 persen dari 275 wilayah kerja pertambangan migas. Pemberlakuan UU No 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi mengukuhkan Indonesia sebagai satu-satunya negara di dunia yang paling ”zalim” terhadap BUMN migas-nya.

Indonesia yg cuma menguasai 8,8 % Migas pun masih saja diekspor seperti gas (53,11 %) dan batubara (67,54 %)
http://www.ristek.go.id/index.php/mo…id/10647/print
“Sebanyak 329 blok migas di tangan asing. Jika diletakkan titik-titik pada peta Indonesia, maka Indonesia sudah tergadaikan,” Dia mengatakan luas lahan konsesi yang dikuasai asing untuk migas mencapai 95,45 juta hektar. Luas daratan seluruh Indonesia mencapai 192.257.000 hektar, sedangkan luas hutan Indonesia mencapai 101.843.486 hektar. http://www.antaranews.com/view/?i=1212028635&c=EKB&s=
Benar benar tergadaikan Indonesia ini … bahkan 175 juta Hektar (93% wilayah Indonesia dikuasai asing)
Hal ini memang tidak lepas dari tekanan asing, lihat saja banyaknya RUU mengenai MIGAS sangat merugikan Indonesia dan merupakan tekanan asing
http://www.migas.esdm.go.id/tracking…-Tekanan-Asing
Dan kenaikan harga BBM yg tidak wajar juga merupakan tekanan dari perusahaan multinasional (melalui IMF, Worldbank, dll)
http://www.migas-indonesia.com/index…t=view&id=1207
UU Migas dibuat posisi Indonesia dalam tekanan IMF, sehingga kepentingan asing benar-benar ada dalam pembahasan UU
http://nasional.kompas.com/read/2008…aksanakan.2009
maka Sebagian besar sumur gas dikuasai oleh asing. Liberalisasi sektor minyak dan gas (migas) secara jelas telah terbukti memakan korban. http://www.pim.co.id/database/news/show.html?id=59
Tentunya Hal ini jelas jelas melanggar, dan mengkhianati pasal 33 ayat 1, 2 dan 3 UUD 1945 yaitu :
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
Bahkan 85% BUMN pun sudah dimiliki asing …
http://www.tempo.co/read/news/2006/0…Dikuasai-Asing
Begitu Kayanya Negara ini dimana tingkat pengurasan cadangan minyak Indonesia sangat tinggi, hingga 8 X laju pengurasan di negara2 penghasil minyak utama dunia, seperti Arab Saudi dan Libya, yg dimana dilakukan perusahaan asing di Indonesia
produksi per kilometer persegi Pertamina baru sekitar 0,89 barel/hari,PT Chevron Pacific, Perusahaan minyak asal Amerika ini masih menjadi produsen minyak bumi dan gas terbesar di Indonesia dengan kapasitas 356 ribu barel/hari.
Total EP Indonesie perusahaan asal Prancis ini mampu produksi per luas wilayah mencapai 28,64 barel/hari per Km2. Total EP memproduksi migas 82.232 barel/hari
http://bisnis.vivanews.com/news/read…rusahaan-asing
Blok Cepu
kasus Blok Cepu yang melibatkan ExxonMobil, yang merupakan penjelmaan Standard Oil 100 tahun yang lalu. Blok Cepu awalnya diusahakan oleh PT Humpuss Patra Gas (HPG) melalui technical assistance contract (TAC) dengan Pertamina. Dengan alasan tidak memiliki pendanaan yang cukup untuk mengeksploitasi cadangan minyak di blok itu, HPG kemudian melepas 49 persen sahamnya kepada Ampolex pada tahun 1997. Ampolex adalah perusahaan minyak yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh ExxonMobil.
Kontrak TAC HPG kemudian berubah menjadi TAC plus karena melibatkan investor asing. Menurut Kepala Badan Pengelolaan dan Pengawasan Kontraktor Asing (BPPKA) PT Pertamina Zuhdi Pane (Kompas, 28/2/ 2006), pelibatan investor asing dalam TAC sebenarnya tidak diperbolehkan secara peraturan perundang-undangan. Akan tetapi, pihak Ampolex melakukan pendekatan terhadap pemerintah Soeharto untuk diloloskan.
Dalam perkembangannya kemudian, Mobil Oil mengambil alih 100 persen saham Humpuss di Cepu melalui Ampolex dan kemudian merger dengan Exxon menjadi ExxonMobil. Setelah selesai kontrak tahun 2010, semestinya Blok Cepu 100 persen menjadi milik Pertamina. Padahal, dengan berlakunya UU Migas 22/2001, TAC yang ada tidak boleh diperpanjang lagi (Petroleum Report 2003, US Embassy).
“ Kenapa pihak ExxonMobil ngotot untuk mengambil alih Blok Cepu dari PT HPG dan ingin memperpanjangnya hingga 30 tahun ? … “
Karena :
Cadangan prospektif Blok Cepu di kedalaman kurang dari 1.700 meter mencapai 1,1 miliar barrel, sedangkan cadangan potensial di kedalaman di atas 2.000 meter diperkirakan 11 miliar barrel. Dengan demikian, Blok Cepu mengandung cadangan minyak terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia melampaui cadangan minyak di Indonesia secara keseluruhan, yang diperkirakan selama ini hanya sekitar 9,7 miliar barrel. Pihak ExxonMobil sudah barang tentu mengetahui hal ini. Adakah ExxonMobil lewat lobinya ke Pemerintah AS ikut menekan Indonesia hingga terjadi amandemen UUD 1945?
http://unisosdem.org/article_detail….&caid=33&gid=2
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0…ni/2494271.htm
Inti dari masalah ini adalah bahwa jika minyak banyak di daerah-daerah di mana kita diberitahu oleh pemerintah dan perusahaan minyak yang tidak memiliki bukti yang jelas bahwa kelangkaan buatan disimulasikan dalam rangka untuk mendorong maju segudang agenda lainnya. Dan kami memiliki contoh nyata dimana hal ini telah terjadi.
Seperti pada perusahaan pengeboran minyak raksasa Chevron dan Texaco, mereka mendapat memo untuk sengaja menciptakan kelangkaan minyak dengan membatasi kapsitas produksi dengan menutup kilang minyak tertentu dengan alasan minyak telah habis di sumber tersebut. Ini adalah upaya lobi nasional yang dipimpin oleh American Petroleum Institute untuk mendorong perusahaan-perusahaan kilang minyak untuk melakukan hal ini.
” Sebuah memo internal yang Chevron menyatakan; “Seorang analis energi senior di konvensi API baru-baru ini memperingatkan bahwa meskipun industri minyak AS tidak mengurangi kapasitas penyulingan hal ini tidak akan menimbulkan peningkatan substansial dalam margin kilang.”
Memo ini semakin memperjelas bahwa gagasan untuk pengurangan dalam kapasitas penyulingan dan pembatasan dalam membuka kilang baru tidak datang dari organisasi lingkungan, seperti yang dikatan oleh para produsen minyak , tetapi melalui kebijakan yang disengaja dari mereka sendiri. by Facebook Comment

Misteri Pulau Eugene 330 dan cadangan Minyak Yang Terisi Kembali

Pulau Eugene merupakan ladang minyak di Teluk Meksiko, sekitar 80 mil lepas pantai Louisiana, AS. Lansekap kepulauan ini terbelah dengan celah dan rekahan dalam yang spontan memuntahkan  gas dan minyak. Ladang minyak ini ditemukan pada 1973 dan  mulai memproduksi sekitar 15.000 barel per hari. Pada 1989, aliran minyaknya berkurang menjadi 4.000 barel per hari. Tetapi tanpa alasan logis apapun, secara tiba-tiba produksinya meningkat menjadi 13.000 barel. Selain itu, taksiran cadangan meroket 60-400 juta barel.
Apa yang terjadi di bawah Teluk Meksiko?
Apa yang ditemukan para peneliti ketika menganalisis ladang minyak ini dengan pencitraan  seismik 3-D? Ternyata ada patahan dalam yang tidak bisa dijelaskan, dan minyak telah memancar dari suatu kedalaman yang tidak diketahui sebelumnya, dan bermigrasi ke atas melalui batuan untuk mengisi pasokan yang ada.
Para peneliti menemukan ketika mereka menganalisis ladang minyak dengan selang waktu pencitraan 3-D seismik bahwa minyak memancar dalam dari sumber yang lebih dalam yang sebelumnya tidak diketahui dan bermigrasi naik melalui celah bebatuan untuk mengisi pasokan yang ada.Selanjutnya, analisis minyak yang sekarang sedang diproduksi di Pulau Eugene menunjukkan perbedaan usia geologis dari minyak yang diproduksi di sana sebelum tahun 1989. Dugaan kuat, minyak mentah yang baru, muncul dari sumber yang berbeda, sumber yang tidak bisa dijelaskan.
Perkiraan terakhir dari cadangan minyak kemungkinan naik dari 60 juta barel menjadi 400 juta barel. Baik ilmuwan dan ahli geologi dari perusahaan-perusahaan minyak besar telah melihat bukti dan mengakui bahwa ladang minyak Pulau Eugene mengalami pengisian ulang sendiri.
Sumber minyak dari suatu kedalaman di Pulau Eugene sangat mendukung teori Thomas Gold yang ditulis dalam bukunya The Deep Hot Biosphere. Gold menetapkan, “minyak bumi sebenarnya adalah aliran primordial terbarukan yang terus-menerus diproduksi oleh bumi dalam kondisi panas dan tekanan yang luar biasa. Ketika zat ini bermigrasi ke permukaan, ia diserbu oleh bakteri, sehingga minyak bumi tampak seperti memiliki asal usul organik dari zaman dinosaurus. “
Sumber minyak di Pulau Eugene serta gagasan Gold membuat insinyur perminyakan bertanya-tanya tentang situasi yang sama di ladang minyak Timur Tengah yang tak ada habisnya.
“Timur Tengah memiliki lebih dari dua kali lipat cadangan minyak dalam 20 tahun terakhir, meskipun setengah abad dieksploitasi dan penemuan baru relatif sedikit,” ujar  Norman Hyne, seorang profesor di Universitas Tulsa, Oklahoma, AS. “Teori  yang tak konvensional (teori abiogenik ) tentunya akan berubah menjadi benar,” katanya.
Keberadaan ladang minyak yang bisa memperbaharui pasokan sendiri menghancurkan mitos teori asal usul minyak.dan Jika minyak memang benar-benar berasal darizat anorganik alami maka bagaimana bisa dikatakan minyak adalah energi tak terbarukan ? by Facebook Comment

Propaganda Peak Oil. Ternyata Minyak Bumi Adalah Energi Terbarukan, Bukan Berasal Dari Fosil


KEBIJAKAN pemerintah soal bahan bakar minyak (BBM) selalu saja ditunggu dengan harap-harap cemas, begitupun penetapan kuota produksi negara-negara penghasil minyak (OPEC), yang berdampak pada fluktuasi harga BBM di pasar internasional selalu diamati dengan penuh kekhawatiran.
Pesimistis dalam dunia perminyakan secara tidak sadar memang telah dibangun dari awalnya. Kita semua percaya bahwa minyak bumi adalah bahan bakar fosil, hampir setiap hari “fakta” ini disebut dalam berbagai media massa. Lalu siapa sebenarnya yang pertama mengajukan teori (tepatnya hipotesis) yang kadung dipercaya semua orang ini? Adalah Mikhailo V. Lomonosov, seorang cendekiawan besar Rusia, yang pada 1757 mengajukan sebuah hipotesis bahwa minyak bumi berasal dari sisa-sisa makhluk hidup.
Berdasarkan hipotesis ini, berarti minyak mentah akan terbentuk sangat lambat, karena berasal dari sisa-sisa tumbuhan dan binatang yang telah mati, melewati jutaan tahun terkubur di bawah batuan,  mengalami  tekanan dan suhu yang luar biasa, lalu mengubahnya menjadi minyak mentah.
Industri minyak bumi modern lahir 145 tahun yang lalu di Titusville, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS) ketika Edwin Drake sukses melakukan pemboran pertama minyak bumi di AS. Kala itu hampir tidak ada yang mengkhawatirkan berapa lama lagi perut bumi menyediakan minyaknya untuk dambil? Tetapi sejak produksi minyak di AS memuncak sekitar 1970, sejumlah ahli geologi, ahli ekonomi dan analis industri mulai mempertimbangkan sebuah pertanyaan, berapa lama lagi pasokan minyak bumi dunia bisa memenuhi permintaan yang terus meningkat? Banyak kalangan memprediksi, produksi minyak global akan mencapai puncaknya beberapa tahun ke depan.
Konsekuensi dari hipotesis “bahan bakar fosil” tentunya menyisakan pertanyaan-pertanyaan pesimis seperti itu. Berapa banyak minyak mentah yang masih tersisa di dalam perut bumi? Dan kapan habisnya?
Menurut National Geographic, jumlah minyak mentah yang tersisa di bumi diprediksi sekitar 1,2 triliun barrel. Walaupun ladang minyak baru banyak ditemukan, tetapi pasokan saat ini tidak sebanding dengan penemuan-penemuan ladang tersebut. Berdasarkan gambaran konsumsi saat ini, berarti perkiraan 1,2 triliun barrel minyak bumi akan habis dalam tempo 44 tahun.
Benarkah masa kejayaan energi tak terbarukan ini akan segera berakhir? Akankah tak kan tersisa lagi tetesan minyak di jebakan kerak bumi? Ataukah ini hanya isu-isu yang sengaja dihembuskan untuk melambungkan harga “emas hitam” ini?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita mesti meninjau ulang hipotesis biogenik Lomonosov yang dibuat hampir 250 tahun yang lalu itu. Beberapa ilmuwan mulai mempertanyakan pandangan tradisional ini. Pada abad ke-19 hipotesis  ini untuk pertama kalinya ditolak seorang naturalis dan geolog Jerman kenamaan, Alexander von Humboldt, dan ahli kimia termodinamik Prancis, Louis Joseph Gay-Lussac, kemudian mereka mengajukan dalil alternatif yang menyatakan bahwa minyak bumi adalah materi primordial (purba) yang memancar dari tempat yang sangat dalam, dan tak ada hubungannya dengan materi biologis dari permukaan bumi.
Dengan berkembangnya ilmu kimia selama abad kesembilan belas, terutama ketika hukum kedua termodinamika ditemukan oleh Clausius pada 1850, hipotesis Lomonosov terus diserang, tak kurang dari pakar kimia Prancis Marcellin Berthelot mencemooh hipotesis asal biologis dari minyak bumi ini. Berthelot adalah orang pertama yang melakukan percobaan yang melibatkan serangkaian apa yang sekarang disebut sebagai reaksi Kolbe dan menunjukkan bahwa minyak bumi bisa dihasilkan dengan melarutkan baja dengan asam kuat tanpa melibatkan molekul atau proses biologis.
Selama kuartal terakhir abad kesembilan belas, ahli kimia Rusia Dmitri Mendeleev juga menguji dan menolak hipotesis Lomonosov ini.  Mendeleev menyatakan dengan jelas bahwa minyak bumi merupakan bahan primordial yang keluar dari kedalaman yang jauh. Dengan persepsi yang luar biasa, Mendeleev membuat hipotesis tentang adanya struktur geologi yang ia sebut “patahan dalam” (deep fault) tempat minyak bumi melaluinya dari kedalaman.
Pada 1951, dalam sebuah kongres geologi minyak bumi, seorang geolog asal Rusia Nikolai  A. Kudryavtsev mengajukan teori asal-usul minyak bumi abiotik atau abiogenik, setelah menganalisis hipotesis Lomonosov yang terbukti salah. Inilah untuk pertama kalinya teori abiotik modern dicanangkan untuk mengganti teori konvensional.
Kudryavtsev tidaklah sendiri, dia mendapat banyak dukungan termasuk dari para ilmuwan barat, seperti Thomas Gold dan Dr JF Kenney.  Bahkan Kenney bersama ilmuwan Rusia lainnya benar-benar mampu membangun reaktor dan membuktikan minyak bumi bisa dihasilkan dari kalsium karbonat dan oksida besi, dua senyawa yang melimpah di kerak bumi.
Baru-baru ini, para peneliti dari Royal Institute of Technology  di Stockholm, Swedia telah berhasil membuktikan bahwa fosil-fosil dari hewan dan tumbuhan tidak lagi diperlukan untuk menghasilkan minyak mentah. Temuan ini begitu revolusioner karena sangatlah berarti, di satu sisi akan memudahkan menemukan sumber-sumber energi, di sisi lain sumber energi ini dapat ditemukan di seluruh dunia.
“Dengan menggunakan penelitian ini, bahkan kami dapat mengatakan di mana minyak bumi dapat ditemukan di Swedia,” kata Vladimir Kutcherov, profesor yang memimpin riset ini.
Bersama dengan koleganya, Vladimir Kutcherov telah melakukan simulasi suatu proses yang melibatkan tekanan dan panas yang terjadi secara alami di lapisan dalam bumi, proses yang menghasilkan hidrokarbon, komponen utama dalam minyak dan gas alam.
Menurut Kutcherov, penemuan ini mengindikasikan dengan jelas bahwa pasokan minyak bumi tidak akan habis. “Tidak ada keraguan bahwa penelitian kami membuktikan bahwa minyak mentah dan gas alam yang dihasilkan, tanpa melibatkan fosil. Semua jenis batuan dasar dapat berfungsi sebagai reservoir minyak,” kata Vladimir Kutcherov kepada Science Daily, baru-baru ini.
Kutcherov pun mampu membuktikan bahwa hidrokarbon dapat dibuat  dari air, kalsium karbonat  dan zat besi. Ini berarti  minyak bumi merupakan sumber energi berkelanjutan dan terbarukan.
Proses abiotik untuk menghasilkan minyak bumi dimungkinkan lewat proses yang disebut Fischer-Tropsch, reaksi kimia yang mengubah campuran karbonmonoksida dan hidrogen menjadi hidrokarbon cair. Proses ini dikembangkan dan dipatenkan pada tahun 1920, kemudian digunakan selama Perang Dunia II  oleh Jerman dan Jepang. Proses ini pun menjadi dasar penciptaan bahan bakar jet yang dibuat dari air di AS, seperti dilaporkan majalah Wired (9/9/09).

Sumber : Sinarilah Dunia by Facebook Comment

Kamis, 28 Juni 2012

Tiga Prasasti Kuno beraksara Lontara ditemukan di Majene

Jejak Celebes News, Majene: Tiga prasasti kuno ditemukan pada dua tempat yang berbeda di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Prasasti-prasasti itu diklaim sebagai penemuan pertama di kawasan Sulawesi.

Dua prasasti ditemukan di Kecamatan Malunda. Masing-masing dengan panjang 50 sentimeter dan lebar 15 sentimeter. Satu lagi ditemukan di Kecamatan Banggae dengan panjang 50 sentimeter dan lebar 40 sentimeter.

Pada awalnya prasasti tersebut ditemukan warga yang bekerja sebagai penambang batu. "Saat melihatnya, saya kaget dan seolah tidak percaya, sebab penemuan prasasti di Sulawesi belum pernah terjadi selama ini. Saya pastikan ini yang pertama di Sulawesi," kata Kepala Museum Mandar Majene, Ahmad Hasan di Majene, Kamis (28/6).

Dia mengungkapkan prasasti yang pertama di temukan di Lingkungan Bukku, Kelurahan Banggae, Kecamatan Banggae, persis di dekat menhir pemujaan yang dikenal warga sekitar dengan sebutan Batu Miana. Dua buah prasasti lainnya ditemukan di sekitar Kota Tinggi, Kecamatan Malunda, dengan tulisan yang belum diketahui artinya.

"Salah satu prasasti yang ditemukan di Kecamatan Banggae berisi tulisan Lontara Mandar yang diperkirakan merupakan warisan dari abad ke-15. Namun tulisan yang tertera pada batu yang satunya belum diketahui tulisan apa, tapi kemungkinan huruf Pallawa," terang Ahmad Hasan.

Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Majene, Mitthar Thala Ali mengatakan pihaknya akan melakukan kajian lebih lanjut atas penemuan benda yang memiliki nilai sejarah tersebut, bahkan bila perlu akan dilakukan kajian arkeologi.

Lokasi penemuan juga akan dilakukan pemagaran karena kemungkinan masih ada benda sejarah yang dapat ditemukan setelah proses penelitian dilakukan oleh ahli arkeologi. ntApalagi, dalam satu tempat biasanya terdapat berbagai macam prasasti yang bisa ditemukan.(Ant/BEY)
Sumber :  Metrotvnews.com by Facebook Comment