AdSense

Minggu, 17 Juni 2012

ANGNGARU, Ikrar Kesetiaan Masyarakat Makassar


Pengertian Dan Penjelasan
Aru atau angngaru menurut pendapat Yasin Limpo, dkk. (1995) merupakan semacam ikrar atau ungkapan sumpah setia yang sering disampaikan oleh orang-orang Gowa di masa silam, biasanya diucapkan oleh bawahan kepada atasannya, abdi kerajaan kepada rajanya, prajurit kepada komandannya, masyarakat kepada pemerintahnya, bahkan juga dapat diucapkan seorang raja (pemerintah) kepada rakyatnya, bahwa apa yang telah diungkapkan dalam aru itu akan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, baik itu untuk kepentingan pemerintah di masa damai maupun di masa perang.
Angngaru dalam persepsi HM. Sirajuddin Bantang (dalam hatta, 2010) merupakan suatu susunan sastra dalam bahasa Makassar, yang diisi dengan kalimat-kalimat sumpah setia yang penuh keberanian diucapkan oleh salah seorang tubarani atau wakil dari salah seorang Gallarrang di hadapan Raja.
Pada saat tampil di hadapan Sombayya ri Gowa (pemerintah), tubarani yang akan angngaru mengambil posisi berlutut dengan posisi badan tegap, tangan kanan memegang badik yang terhunus, dan wajah yang menatap ke arah depan dengan penuh kemantapan dan keyakinan hati sebagai tanda atas kesetiaan kepada Sombayya ri Gowa (pemerintah).
Waktu Pelaksanaan
Pada masa peperangan, para prajurit Kerajaan Gowa yang akan berangkat ke medan perang terlebih dahulu mengucapkan sumpah setia (aru atau angngaru) di depan Sombayya ri Gowa bahwa ia akan berjuang untuk mempertahankan wilayah kerajaan, membela kebenaran, dan tak akan mundur selangkah pun sebelum melangkahi mayat musuhnya. Aru ini pada saat diucapkan dapat membakar semangat juang prajurit, menimbulkan jiwa patriotic di kalangan laskar prajurit.
Di masa damai dalam tradisi pemerintahan Kerajaan Gowa, para pejabat kerajaan yang baru diangkat maka sebelum melaksanakan tugasnya, terlebih dahulu mengucapkan aru atau sumpah setia di hadapan Sombayya ri Gowa bahwa ia akan bekerja bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan kerajaan dan menjunjung tinggi kemuliaan raja. Aru yang diucapkan itu pula merupakan dorongan atau motivasi untuk mewujudkan cita-cita dalam membangun kerajaan.
Pada masa sekarang, angngaru sering digunakan dalam berbagai hal antara lain pada upacara adat, kegiatan pemerintahan, maupun penyambutan tamu-tamu kehormatan. Aru yang diucapkan pada upacara tersebut selain memiliki nilai magis, juga berfungsi sebagai pemahaman, kebanggaan dan pelestarian oleh masyarakat Gowa terhadap budaya angngaru yang merupakan ciri khas Kerajaan dan masyarakat Gowa.

Naskah Aru atau Angngaru

Bismillahir rahmanir rahiim

Ata karaeng, 
Tabe’ kipammopporang mama’
Ri dallekang labbiritta, ri sa’ri karatuanta, ri empoang matinggita

Inakke minne, karaeng Lambara’ tatassa’la’na Gowa
Nakareppekangi sallang karaeng..., Pangngulu ri barugayya...
Nakatepokangi sallang karaeng..., Pasorang attangnga parang...

Inai-inaimo sallang karaeng..., Tamappattojengi tojenga, Tamappiadaki adaka,
Kusalaagai sirinna, kuisara parallakkenna...
Berangja kunipatebba, pangkulu’ kunisoeyyang

Ikau anging karaeng, naikambe lekok kayu
Mirikko anging namarunang lekok kayu
Iya sani madidiyaji nurunang...

Ikau je’ne’ karaeng, naikambe batang mammayu
Solongko je’ne’ namammayu batang kayu
Iya sani sompo bonangpi kianyu...

Ikau jarung karaeng naikambe banning panjai’
Ta’leko jarung namminawang bannang panjai’
Iya sani lambusuppi nakontu tojeng...

Makkanamamaki mae karaeng naikambe mappa’jari
Mannyabbu’ mamaki karaeng naikambe mappa’rupa

Punna sallang takammaya aruku ri dallekanta’
Pangkai jerakku, tinra’ bate onjokku
Pauwang ana’ ri boko, pasang ana’ tanjari
Tumakkanayya’ karaeng natanarupai janjinna

Sikammajinne aruku ri dallekanta
Dasi nadasi nana tarima pa’ngaruku
Salama’

Sumber :
Yasin Limpo, Syahrul, Adi Suryadi Culla, dan Zainuddin Tika, 1995, Profil Sejarah, Budaya dan Pariwisata Kerajaan Gowa, Pemda Tk II Gowa Kerjasama Yayasan Eksponen 1966 Gowa, Ujung Pandang.

 




Artikel Terkait:

by Facebook Comment

Tidak ada komentar:

Posting Komentar